Logo Header Antaranews Riau

Harga Daging Sapi Di Riau Masih Terkendali

Selasa, 11 Agustus 2015 20:32 WIB
Image Print

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Riau menilai, harga daging sapi yang melonjak pada sejumlah kabupaten/kota di Riau seperti Pekanbaru mencapai Rp120.000/kilogram masih terkendali dan belum memberi pengaruh besar.

Kepala Disperindag Provinsi Riau M Firdaus di Pekanbaru, Selasa, mengatakan, dari hasil pantauan tim pada beberapa pasar tradisional di Kota Pekanbaru, harga daging sapi masih di kisaran Rp110.000-Rp120.000 per kilogram.

"Untuk sementara ini kami putuskan harga daging sapi kalau di Riau masih terkendali. Berbeda dengan harga daging sapi di Jawa yang bergejolak karena ada pedangang yang mogok jualan," terangnya.

Ia menambahkan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan terutama pementauan harga daging sapi dipasaran, demi mengantisipasi gejolak harga yang saat ini cenderung tinggi.

Pihaknya telah membentuk tim yang terdiri dari Disperindag Provinsi Riau dan masing-masing kabupaten/kota di Riau yang akan terus melakukan penelusuran pada setiap pasar di daerah tersebut untuk memantau harga kebutuhan masyarakat.

"Selain masalah daging sapi, harga cabai jadi prioritas tim ini dan kita terus lakukan terus pengawasan. Saat ini, justeru harga cabai lebih fluktuatif. Jika tidak dilakukan pengawasan ketat, dikhawatirkan akan terjadi lonjakan harga signifikan dan memberikan dampak negatif di pasaran," terangnya.

Meski demikian, Firdaus tetap mengimbau kepada pedagang di Provinsi Riau untuk tidak macam-macam dengan harga karena daging telah menjadi salah satu kebutuhan konsumen yang selalu dicari-cari.

"Kita minta kepada para pedangang, jangan sampai harga daging terutama sapi dipasaran memberatkan konsumen," kata dia.

Pemerintah sehari sebelumnya telah memutuskan mengambil kebijakan dalam jangka sangat pendek untuk mengatasi naiknya harga daging sapi yaitu dengan impor dan operasi pasar (OP).

"Rapat koordinasi memutuskan untuk jangka pendek, Bulog melakukan OP sehingga kelangkaan daging sapi di pasar diisi Bulog," kata Menko Perekonomian, Sofyan Djalil.

Menko perekonomian mengatakan, pemerintah memberikan izin kepada Bulog untuk mengimpor sapi siap potong sebanyak 50.000 ekor.

"Ini kebijakan jangka pendek dan pendek, kebijakan sampai akhir tahun atau menengah akan dilaporkan dulu kepada Presiden," kata Sofyan dalam jumpa pers bersama Mendag Rachmat Gobel dan Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti.

Ia menyebutkan sapi potong impor begitu sampai di Tanah Air bisa dipotong untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pemerintah mengharapkan dengan kebijakan itu para penggemuk sapi juga akan melepaskan ternaknya dan pedagang daging akan mulai beraktivitas lagi.

Sementara itu menjawab pertanyaan mengapa harga daging sapi mencapai hingga Rp.140.000 per kg hanya terjadi di beberapa provinsi, Mendag menyatakan akan mempelajarinya.

"Kami sedang pelajari, harga rata-rata daging sapi 30 provinsi dari 34 provinsi di atas Rp.100.000 per kg, sementara lainnya di bawah itu," kata dia.

Harga daging sapi di Sumatera dan Kalimantan diakui masih tinggi karena masalah logistik, dari Lampung sapi diangkut dalam keadaan hidup sehingga biayanya lebih mahal.

"Makanya penyebaran penggemukan sapi harus dilakukan," katanya.



Pewarta :
Editor: Muhammad Said
COPYRIGHT © ANTARA 2026