
Pakar: Kampar Kuatkan Ketahanan Pangan Energi
Minggu, 9 Agustus 2015 17:43 WIB
,_Bappenas,_Drs_Adhi_Putra_Alfian_MSi.jpg)
Kampar,Riau (Antarariau.com) - Pakar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Sarjio Antonius (Anton) menyatakan Pemerintah Kabupaten Kampar Provinsi Riau telah menemukan cara untuk menguatkan ketahanan pangan dan energi sehingga patut untuk dicontoh berbagai wilayah di tanah air.
"Di tengah sebagian daerah di Indonesia mengalami masalah dengan swasembada pangan, Kabupaten Kampar telah berhasil memecahkan kebuntuan pangan. Ini menarik dan luar biasa, karena selain swasembada pangan, Kampar telah berhasil temukan masalah sumber daya energi. Selama ini kotoran ternak, khususnya sapi, dibuang, Kampar memanfaatkannya menjadi sumber energi baru," kata Dr Anton saat berunjung ke Kampar, Sabtu (8/8).
Ia mengatakan, dengan memanfaatkan teknologi Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi (RTMPE) yang menghasilkan pupuk padat dan cair serta bio energi dari limbah sapi, semua masalah ketergantungan energi dari fosil perlahan mampu digantikan.
Anton mengatakan program RTMPE adalah ide yang sangat baik dan bagus. Pola yang dilakukan adalah mengintegrasi perkebunan, pertanian dan peternakan hingga menjadi bagian tak terpisahkan untuk penguatan ketahanan pangan.
"Karena hasil dari biourine yang berasal dari RTMPE belum terindentifikasi secara ilmiah, ada keinginan dari Bupati Kampar untuk semua yang dihasilkan dari RTMPE dipatenkan. Hal itu agar semua jerih payah yang dihasilkan Kabupaten Kampar tidak begitu saja dengan mudah ditiru oleh daerah lain," katanya.
"Kami di sini ingin langsung melihat apa yang dihasilkan oleh RTMPE, hasil biourine, pupuk padat serta cair ini kita bawa ke LIPI untuk diteliti dan dikeluarkan Hak Patennya, ini berguna agar produk yang dihasilkan memiliki sertifikat," kata dia.
Ia menjelaskan, petani harus berkreasi, petani harus mampu berinisiatif bagaimana melihat peluang, sebab setiap daerah berbeda kontur tanahnya, pemimpin daerah hanya mengarahkan, petani dan pelaku agrobisnis lah yang mengetahui potensi daerahnya.
Sementara itu pakar lainnya dari LIPI, Dr Ragil yang membidangi pematenan produk mengatakan petani merupakan salah satu tekhnopreneur, karena dengan menjadi petani RTMPE telah menghidupi keluarga sendiri dna orang lain.
"Sementara itu makna tekhnopreneur adalah mampu menghidupi manusia di sekitarnya," kata dia.
Ia menambahkan, produk biourine yang dihasilkan petani RTMPE harus memiliki hak paten, untuk melindungi petani penghasil dari pemalsuan dan pengambilan keuntungan dari pihak lain.
Sebelumnya, pihak DPRD Kampar telah mengesahkan alokasi anggaran untuk sebanyak 1.200 keluarga dalam membangun Program RTMPE.
Bahkan Bupati Jefry Noer meminta agar seluruh pejabat eselon hingga kepala desa untuk segera menggesa program itu.
Sementara pengutamaan alokasi APBD adalah para alumni Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) yang kurang mampu, karena sudah 12 ribu lebih alumni P4S yang telah menyelesaikan di pelatihan.
Jefry Noer juga mengatakan, kepala dinas dimasing-masing SKPD harus lebih banyak berkreasi. Caranya, 75 persen waktu adalah untuk bekerja dan sisanya berfikir. Sementara untuk berada di kantor yang bekerja seratus persen adalah sekretaris, kepala bidang, UPTD.
"Kalau kepala dinas hanya memantau kinerja mereka bagaimana mengurus kedinasan. Kadis cukup memikirkan program apa saja yang mampu membantu perekonomian masyarakat kalau tidak serius, maka tiga zero yang dicanangkan melalui RTMPE tidak berhasil," kata Jefry Noer. (Adv)
Pewarta : Kampar,Riau (Antarariau.com) - Pakar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Sarjio Antoni
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
,_Bappenas,_Drs_Adhi_Putra_Alfian_MSi.jpg)
