
Herman Ibrahim sarankan PLN segera selesaikan infrastruktur transmisi jalur timur

Pekanbaru, (ANTARA) - Pakar Ketenagalistrikan dan Mantan Direktur Transmisi dan Distribusi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Herman Darnel Ibrahim meminta PLN segera menyelesaikan infrastruktur transmisi usai adanya "blackout" Sumatra Bagian Utara pada akhir Mei lalu.
Herman saat dihubungi Antara dari Pekanbaru, Kamis mengatakan kecukupan infrastruktur transmisi harus memenuhi Kontingensi N- 1 yaitu memastikan gangguan pada satu ruas transmisi. Dengan begitu maka sistem dapat bertahan tanpa blackout atau gangguan lepasnya pembangkit secara beruntun.
"Melihat anatomi sistem Sumatera saat ini maka penyelesaian transmisi 275 dan 500 kV jalur timur perlu dituntaskan," katanya.
Akan tetapi jika penyelesaian transmisi jalur timur butuh waktu lama maka untuk mencegah black out dalam operasi transfer dari selatan ke utara perlu dibatasi. Dengan begitu kalau dilakukan simulasi N-1, sistem dapat bertahan, tidak akan swing dan kalau sampai terpisah dan ada defisit , harus dipastikan itu bisa diatasi dengan spinning reserve dan pelepasan beban otomatis dengan skema yang sudah diuji.
Kalau perbaikan yang kedua diatas tidak bisa dicapai, setelah disimulasikan, maka opsi ketiga operasi sistem utara dan selatan sementara dipisahkan saja smpsi transmisi jalur timur tuntas sampai ke Sumatera Utara.
"Dengan membuat dua sistem terpisah yang memiliki pembangkit dan beban yang seimbang di masing masing sistem," ujarnya .
Menurutnya Blackout dengan urutan kejadian serupa yaitu lepasnya 1 ruas transmisi memang harus dicegah diantaranya dengan 3 opsi pemikiran perbaikan di atas. Meskipun sesungguhnya blackout itu tak bisa dipastikan tidak akan terjadi lagi.
Pasalnya memastikan tidak adanya black out lagi, sama halnya dengan memastikan bahwa kecelakaan pesawat tidak terjadi lagi atau memastikan seorang manusia tidak akan mati. Jadi yang bisa diupayakan secara maksimal adalah dengan memperkuat infrastruktur dan skema pertahanan sistem yang lebih kuat dan canggih.
Hal tersebut harus dilakukan karena peralatan listrik itu terdiri dari komponen buatan manusia yang keandalannya tidak 100 persen. Dan semua peralatan dan mesin terekspose ke lingkungan yang mungkin dapat mengganggu, di luar kemampuan manusia pengelola sistem untuk mengatasinya.
"Tahun 2025 lalu terjadi 6 kali blackout di dunia yaitu di Spanyol Purtugal, Chii, Cuba, Srilanka, Macedonia dan Honduras. Dalam tahun 2026 ini blackout Sumatera adalah yang ke 5 didunia setelah black out di Argentina, Dominica, Jerman dan Denmark pada bukan Januari dan Februari yang lalu," ungkapnya.
Dia menambahkan sesungguhnya sistem yang terinterkoneksi secara solid dengan banyak pembangkit dan ruas transmisi akan lebih kuat dan lebih tahan blackout dari pada sistem kecil yang tidak terinterkoneksi secara luas. Akan tetapi di sisi lain, jika terjadi blackout total pemulihannya akan lebih lama karena pembangkit dihidupkan satu persatu, tak bisa serentak serta beban dipulihkan dan sistem dibangun kembali secara bertahap.
Apalagi kalau Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara yang kalau sudah trip atau mati menghidupkannya lama karena pembakarannya tak bisa menghadirkan listrik seketika. Selain itu untuk startnya diperlukan tenaga listrik yang besar yang harus disediakan oleh pembangkit yang cepat start seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air dan Gas. Proses restart PLTU umumnya menunggu pengiriman daya dari sistem yang dipulihkan secara bertahap
Blackout di beberapa negara juga waktu pemulihannya lama seperti di New York 1997 pemulihannya 25 jam. Blackout USA Canada 2003 pemulihannya dua hari dan Spanyol Portugis 2025, pemulihannya 19 jam. Di negara maju seperti Eropa dan Amerika pengiriman daya untuk menghidupkan pembangkit bisa lebih cepat karena ada interkoneksi dengan negara tetangga.
"Untuk pemulihan juga ditentukan oleh kualitas dan ketersediaan peralatan telekomunikasi. Karena ketika blackout proses start sampai tersambung ke sistem dikoordinasikan melalui perangkat telekomunikasi. Kalau perangkat telekomunikasi terganggu atau tidak lancar akan bertambah lama prosesnya," tuturnya.
Pewarta : Bayu Agustari Adha
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

