Logo Header Antaranews Riau

Komunikasi Hangat, Kunci Menciptakan Rumah Aman bagi Anak

Rabu, 20 Mei 2026 12:03 WIB
Image Print
Arsip foto - Pendamping menemani anak balita saat minum susu di Rumah Pelita, Manyaran, Semarang, Jawa Tengah, Senin (13/4/2026). Rumah Pelita merupakan inisiasi Pemerintah Kota Semarang sebagai upaya percepatan penurunan stunting melalui layanan penitipan anak yang bertujuan meningkatkan pola asuh, asupan gizi, serta tumbuh kembang anak agar mencapai status gizi optimal, dan saat ini layanan rumah tersebut telah tersedia di empat lokasi di wilayah Semarang. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj)

Jakarta (ANTARA) - Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog menilai rumah yang aman bagi anak perlu dibangun melalui dialog dan kehadiran emosional orang tua salah satunya dengan komunikasi yang hangat.

“Rumah itu adalah tempat yang aman untuk pulang. Anak merasa diterima apa adanya, baik ketika dalam kondisi baik maupun tidak baik,” kata Novi saat dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Selasa.

Salah satu indikator rumah yang aman bagi anak ialah keberadaan dialog terbuka dan interaksi hangat antara orang tua dan anak. Dia mengatakan rumah seharusnya menjadi tempat anak bercerita, bertanya, dan menyampaikan perasaan tanpa takut dihakimi.

Baca juga: Titik Temu gelar program Mom n Kids Book Party untuk ibu dan anak

Namun, Novi menilai komunikasi dalam banyak keluarga saat ini cenderung bersifat instruksi dan transaksional, seperti sekadar menanyakan tugas sekolah atau kebutuhan sehari-hari.

"Deep talk (percakapan yang mendalam) itu jarang sekali terjadi,” ujar dia.

Interaksi keluarga, kata Novi mengingatkan, belakangan ini dipicu oleh perkembangan teknologi dan intensitas kesibukan anggota keluarga, yang membuat interaksi keluarga menjadi semakin terbatas. Dia mencontohkan, meskipun berada dalam satu ruangan yang sama, namun, masing-masing sibuk dengan gawai sendiri sehingga tidak tercipta komunikasi yang hangat.

Novi mengatakan kondisi tersebut membuat anak cenderung mencari ruang lain untuk meluapkan emosi dan masalahnya karena tidak terbiasa berdialog dengan keluarga. Padahal, kata dia, rumah semestinya menjadi "imun sistem" bagi anak ketika menghadapi tekanan dari luar, baik di lingkungan sekolah maupun pergaulan.

Baca juga: Tips Efektif Mendampingi Anak di Era Screen Time

"Ketika kondisi eksternal tidak baik-baik saja, anak harus merasa aman ketika di rumah," ujar dia.

Oleh karena itu, dia mengimbau orang tua untuk mulai menyediakan waktu khusus bersama keluarga tanpa distraksi gawai agar tercipta kedekatan emosional dengan anak.

"Anak-anak itu tidak butuh dinasehati terus, mereka butuh didengarkan," kata Novi.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026