Logo Header Antaranews Riau

Laporan Ungkap Ancaman Baru di Era AI Otonom, Perusahaan Indonesia Dinilai Belum Siap Hadapi Risiko Siber

Senin, 18 Mei 2026 12:14 WIB
Image Print
Ilustrasi - Hacker atau peretas mencoba membongkar keamanan siber. Pemerintah Indonesia menganggap banyak data pribadi yang dibocorkan Bjorka dari berbagai institusi bukanlah ancaman bagi negara dan data bersifat umum. (ANTARA/Shutterstock/am)
Penggunaan AI otonom meningkat pesat, namun kesiapan keamanan siber dinilai masih tertinggal Pakar peringatkan potensi serangan siber berbasis AI yang semakin cepat dan sulit dideteksi Laporan terbaru soroti “deployment gap” antara adopsi AI dan ta

Pekanbaru (ANTARA) - Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia kini memasuki fase baru yang lebih kompleks. Perusahaan mulai memanfaatkan sistem AI otonom yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan tindakan secara mandiri di lingkungan digital. Namun di balik peluang besar tersebut, muncul ancaman keamanan siber baru yang dinilai belum sepenuhnya siap diantisipasi oleh banyak organisasi.

Temuan tersebut diungkap dalam laporan terbaru Zentara Labs berjudul “SAFE-AGENT: An Agentic AI Security Framework for the Enterprise and Public Sector”. Laporan ini menyoroti semakin lebarnya kesenjangan antara percepatan penggunaan AI dengan kesiapan perusahaan dalam mengelola risiko keamanan dan tata kelolanya.

Co-Founder dan CEO Zentara, Regal Rauniyar Star, mengatakan perkembangan AI kini bergerak melampaui pendekatan keamanan tradisional yang selama ini digunakan perusahaan.

“AI saat ini mulai beroperasi dengan tingkat independensi yang sebelumnya belum pernah diantisipasi. Kondisi ini menciptakan kesenjangan besar antara cara sistem AI bekerja dengan kemampuan perusahaan dalam memantau serta mengendalikan risikonya,” ujar Regal.

Menurut laporan tersebut, banyak perusahaan mulai mengintegrasikan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, otomatisasi layanan pelanggan, hingga pengolahan data. Namun, di saat yang sama, perlindungan keamanan dan sistem pengawasan internal dinilai belum berkembang secepat teknologi yang diadopsi.

President Zentara, Darian Kuswanto, menilai perusahaan kini perlu mengubah cara pandang terhadap AI — bukan lagi hanya fokus pada kemampuan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan penggunaannya tetap aman dan bertanggung jawab.

“Membangun pemahaman mengenai tata kelola AI sejak dini akan menjadi langkah penting, tidak hanya untuk mengelola risiko, tetapi juga menjaga kepercayaan publik,” kata Darian.

Laporan ini hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap ancaman siber berbasis AI. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi berbagai insiden keamanan digital mulai dari lonjakan anomali lalu lintas internet, upaya peretasan otomatis, hingga kebocoran data yang menyerang institusi publik maupun swasta.

Para pakar keamanan juga mengamati tren baru di mana AI mulai digunakan untuk mengotomatisasi serangan siber. Teknologi ini memungkinkan serangan berlangsung lebih cepat, adaptif, dan lebih sulit dideteksi dibanding metode konvensional.

Kondisi tersebut memunculkan tantangan baru bagi perusahaan: bagaimana mempertahankan kontrol terhadap sistem yang dirancang untuk dapat “bertindak sendiri”.

Selain ancaman keamanan, laporan Zentara juga menyoroti persoalan tata kelola AI yang semakin mendesak. Meningkatnya kasus penyalahgunaan AI — mulai dari penyebaran konten manipulatif hingga informasi menyesatkan — mendorong regulator dan publik untuk menuntut pengawasan yang lebih jelas terhadap penggunaan teknologi ini.

Secara global, berbagai lembaga industri mulai merilis panduan keamanan AI dan menanggapi meningkatnya insiden siber berbasis AI. Namun implementasi nyata di tingkat perusahaan masih belum merata, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Laporan tersebut menyebut kondisi ini sebagai “deployment gap” — situasi ketika laju adopsi AI jauh melampaui kesiapan tata kelola dan sistem keamanannya.

Sebagai langkah mitigasi, Zentara merekomendasikan perusahaan dan pembuat kebijakan untuk mulai memperjelas hak akses sistem AI, meningkatkan pemantauan aktivitas berbasis AI, menetapkan batasan terhadap tindakan berisiko tinggi, serta memastikan adanya akuntabilitas yang jelas dalam setiap penggunaan teknologi AI otonom.

Dengan adopsi AI yang diperkirakan terus meningkat di sektor keuangan, layanan publik, hingga industri digital, laporan ini menjadi pengingat bahwa transformasi teknologi tanpa kesiapan keamanan dapat membuka risiko baru yang jauh lebih besar di masa depan.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026