Logo Header Antaranews Riau

AS akan lepaskan 53,3 juta barel dari cadangan minyak strategis

Rabu, 13 Mei 2026 11:30 WIB
Image Print
Ilustrasi distribusi bahan bakar minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah ke seluruh dunia. (ANTARA/Anadolu/py.)

Moskow (ANTARA) - Departemen Energi AS mengatakan akan melepaskan 53,3 juta barel minyak dari cadangan minyak strategisnya sebagai bagian dari upaya untuk menstabilkan pasokan bahan bakar global.

"Departemen Energi AS (DOE) hari ini mengumumkan pemberian kontrak untuk pertukaran sekitar 53,3 juta barel minyak mentah dari lokasi Cadangan Minyak Strategis (SPR) Bayou Choctaw, Bryan Mound, Big Hill, dan West Hackberry," menurut pernyataan tersebut.

Pengiriman akan segera dimulai, kata departemen tersebut, seraya menambahkan bahwa sekitar 35 juta barel telah dikirim ke pasar sejauh ini.

Baca juga: Iran Pulihkan Fasilitas Minyak dan Gas di Tengah Dampak Serangan

Keputusan itu merupakan langkah lanjutan dari pelepasan total 172 juta barel ke pasar dari cadangan AS sebagai bagian dari langkah-langkah terkoordinasi oleh Badan Energi Internasional (IEA) untuk menstabilkan pasokan minyak global, kata departemen tersebut.

Pada Maret, IEA mengatakan akan melepaskan 400 juta barel stok minyak darurat karena situasi di Timur Tengah.

Operasi militer AS dan Israel terhadap Iran secara efektif telah menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur utama untuk pasokan minyak dan LNG global dari negara-negara Teluk.

Baca juga: Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Terjun Bebas Lebih dari 10%

Harga minyak telah melampaui 100 dolar AS (Rp1,7 juta) per barel di tengah peristiwa di Timur Tengah.

Pada akhir Februari, cadangan strategis AS berada di angka sedikit di atas 415 juta barel.

Setelah pelepasan yang direncanakan, cadangan tersebut dapat turun di bawah 250 juta barel, berpotensi mencapai titik terendah dalam sejarah sejak Departemen Energi AS mulai mengumpulkan data inventaris mingguan pada Agustus 1982.

Pada akhir April, cadangan strategis tersebut telah turun di bawah 400 juta barel.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026