Logo Header Antaranews Riau

Bangladesh Sambut Kedatangan Tanker Minyak Perdana di Tengah Konflik AS-Iran

Kamis, 7 Mei 2026 13:45 WIB
Image Print
Ilustrasi - Tanker Indian Oil Desh Garima membawa minyak mentah, setelah melewati Selat Hormuz, terlihat di Pelabuhan Mumbai di Mumbai, India pada Kamis (30/4/2026). (ANTARA/Anadolu/İmtiyaz Shaikh/pri)

Moskow (ANTARA) - Bangladesh akhirnya menyambut tanker pertama yang membawa minyak mentah ke negaranya sejak konflik di Timur Tengah terjadi pada akhir Februari lalu.

Seperti dilaporkan surat kabar Bangladesh, Daily Star, Rabu (6/5), tanker itu bernama MT Ninemia yang membawa sekitar 100.000 ton minyak dari Arab Saudi dan tiba di Pelabuhan Chattogram, Bangladesh.

Menurut laporan tersebut, pengiriman minyak mentah ke Bangladesh sempat terhenti sejak pertengahan Februari hingga April, yang secara praktis melumpuhkan operasi di kilang lokal.

Dengan tibanya tanker minyak itu, kilang di Chattogram akan melanjutkan operasinya pada Sabtu (9/5).

Baca juga: Setelah Dibuka, Dua Tanker Pertamina Siap Tinggalkan Selat Hormuz

Konflik di Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran pada 28 Februari hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Gencatan senjata antara AS dan Iran sempat diumumkan pada 7 April lalu dan dilakukan pula pembicaraan di Islamabad, Pakistan, tanpa hasil.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun memperpanjang gencatan untuk memberi Iran waktu mengajukan "proposal terpadu".

Eskalasi ketegangan di wilayah tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Hal itu pun memicu kenaikan harga bahan bakar.

Baca juga: Tiga Kapal Tanker AS & Inggris Terbakar Usai Serangan Militer Iran

Trump pun sempat mengumumkan operasi Proyek Kebebasan (Project Freedom) untuk membantu kapal-kapal yang terhambat di Selat Hormuz melanjutkan perjalanannya. Namun, Trump memutuskan untuk menghentikan sementara proyek itu guna melihat apakah kesepakatan damai dengan Iran dapat tercapai.


Sumber: Sputnik/RIA Novosti



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026