Logo Header Antaranews Riau

Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut Bisa Picu Masalah Kesehatan, Ini Faktanya

Jumat, 17 April 2026 12:11 WIB
Image Print
Ilustrasi -- Kebiasaan bernapas melalui mulut saat tidur dapat mempengaruhi kesehatan. (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Kebiasaan bernapas melalui mulut saat tidur atau berolahraga dalam jangka panjang dapat mempengaruhi kesehatan, karena membuat udara masuk tanpa melalui proses penyaringan dan pengaturan di hidung.

Hidung menjalankan fungsi seperti pengatur dan filter udara, yakni menghangatkan dan menambah kelembapan udara, memerangkap debu dan mikroba dari udara, serta mencegah partikel asing masuk ke saluran pernafasan.

Baca juga: Kenali perbedaan penyakit sesak nafas karena asma dan COVID-19

Sebagaimana dikutip dalam siaran Times of India pada Kamis (16/4), Asisten Profesor di SDM Institute of Ayurveda and Hospital Dr. Samhita Ullod menyampaikan bahwa semua langkah perlindungan itu dilewati ketika pernapasan beralih ke mulut.

Tanpa pengaturan dan penyaringan di hidung, udara yang masuk ke paru-paru menjadi lebih dingin, lebih kering, dan kurang bersih.

Kondisi yang demikian seiring waktu dapat memicu iritasi saluran udara dan membebani sistem pernapasan.

Tanda awal kebiasaan bernapas melalui mulut bisa berupa bibir yang kering pada pagi hari atau sering terbangun pada malam hari karena haus.

Dr. Ullod menyampaikan bahwa bernapas melalui mulut mengurangi efisiensi pertukaran oksigen, membuat tubuh bekerja lebih keras tetapi mendapatkan manfaat yang lebih sedikit.

Menurut dia, hal tersebut dapat menyebabkan kelelahan, penurunan konsentrasi, dan secara bertahap bisa mengakibatkan gangguan pernapasan.

Pola pernafasan yang buruk juga berkaitan dengan masalah tidur, dapat memperburuk gangguan tidur dan memengaruhi tingkat energi pada siang hari.

"Ini terkait dengan tidur yang terfragmentasi dan jika terus berlanjut dapat memperburuk kondisi apnea tidur," kata Dr. Ullod.

Baca juga: Rumah singgah Mal Pelayanan Publik didatangi satu keluarga karena sesak nafas

Pada anak-anak, bernapas melalui mulut dalam jangka panjang dapat memengaruhi susunan rahang dan struktur gigi serta meningkatkan risiko terhadap masalah gusi dan infeksi tenggorokan.

Dr. Ullod menyampaikan bahwa upaya untuk mengatasi kebiasaan bernafas melalui mulut dapat dimulai dengan membersihkan hidung agar tidak tersumbat.

Menurut dia, latihan pernapasan juga dapat membantu melatih kembali tubuh untuk bernapas melalui hidung.

Selain itu, tetap aktif secara fisik dapat membantu meningkatkan kekuatan paru-paru dan efisiensi pernapasan.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026