Logo Header Antaranews Riau

Akhir Permusuhan? Ini Syarat Utama Hizbullah ke Israel

Selasa, 14 April 2026 14:14 WIB
Image Print
Wilayah penyerbuan Hizbullah di Israel utara. (ANTARA/Anadolu/py/am.)

Beirut (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, Senin (13/4), mengungkapkan syarat-syarat utama dari pihaknya untuk dapat mengakhiri perseteruan dengan Israel.

"Syarat-syaratnya, yaitu penghentian penuh agresi, penarikan segera pasukan, pembebasan tahanan, pengembalian para pengungsi, dan rekonstruksi," kata Qassem melalui siaran video.

Qassem mengatakan Hizbullah akan terus berperang melawan Israel jika pasukan itu terus menyerang Lebanon dan menduduki wilayahnya. Dia pun menyebut konflik yang terjadi merupakan "agresi Amerika Serikat dan Israel" terhadap Lebanon.

Baca juga: Israel dan Lebanon Buka Dialog soal Masa Depan Persenjataan Hizbullah

"Pihak perlawanan telah memulihkan dirinya secara diam-diam dan sistematis dan ketika kami mendapat peluangnya, kami akan menangkap tentara musuh," kata pimpinan Hizbullah itu.

Selama 15 bulan terakhir, Israel tak kunjung mematuhi gencatan senjata yang telah disepakati pada 17 November 2024 lalu, kata Qassem. Dia juga menambahkan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri perang adalah dengan mematuhi gencatan tersebut.

Qassem menegaskan penolakan Hizbullah untuk berdialog dengan "entitas penjajah" serta mengecamnya sebagai langkah yang "tak bermakna".

Dia pun mendesak Pemerintah Lebanon untuk mencabut larangan aktivitas militer Hizbullah, karena kelompok perlawanan dan militer tidak dapat berada dalam keadaan konflik.

Pada Selasa ini, Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Yechiel Leiter dan Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh-Moawad akan bertemu di Washington untuk membahas potensi kesepakatan damai.

Baca juga: Iran Janji Balas Kematian Komandan Hizbullah

Dialog tersebut diinisiasi pihak Lebanon melalui mediator internasional. Menjelang berlangsungnya negosiasi, unjuk rasa pro-Hizbullah dilaporkan berlangsung di Ibu Kota Beirut, Lebanon.


Sumber: Sputnik/RIA Novosti



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026