Logo Header Antaranews Riau

Sebelum Pembicaraan Nuklir, AS Lancarkan Sanksi Baru Buat Iran

Kamis, 26 Februari 2026 14:51 WIB
Image Print
Seorang pekerja minyak Iran sedang mengerjakan jalur pipa minyak di Pulau Kharg di Teluk Persia, Iran selatan pada 23 Februari 2016. (ANTARA/Xinhua/Ahmad Halabisaz.)

Washington (ANTARA) - Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Rabu (25/2) menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 30 individu, entitas, dan kapal yang memungkinkan penjualan minyak Iran secara "ilegal" serta mendukung produksi rudal balistik dan senjata konvensional canggih (advanced conventional weapon/ACW).

Diumumkan oleh Kantor Pengendalian Aset Asing Departemen Keuangan AS dalam sebuah pernyataan, sanksi tersebut menargetkan 12 kapal beserta masing-masing pemilik dan operatornya.

Baca juga: Iran Tegaskan Komitmen Meski Tegang, Targetkan Deal Nuklir Setara dengan AS

Menurut pernyataan itu, sanksi-sanksi tersebut juga menargetkan sejumlah jaringan yang memungkinkan Korps Garda Revolusi Islam Iran dan Kementerian Pertahanan serta Logistik Angkatan Bersenjata Iran dalam memperoleh bahan awal dan mesin sensitif yang diperlukan untuk memulihkan kapasitas produksi rudal balistik dan ACW serta menyebarkan kendaraan udara nirawak ke negara-negara ketiga.

Pada 2025, Pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 875 orang, kapal, dan pesawat sebagai bagian dari kampanye "tekanan maksimum" Washington terhadap Iran.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa (24/2) mengatakan bahwa dia tidak akan pernah membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir, sembari menuduh negara tersebut sedang mengembangkan rudal yang dalam waktu dekat dapat mencapai AS.

Putaran baru pembicaraan antara AS dan Iran dijadwalkan berlangsung pada Kamis (26/2) di Jenewa dan diperkirakan akan berfokus pada program nuklir Iran, termasuk tingkat pengayaan uranium dan pencabutan sanksi.

Baca juga: Amerika Kirim Jet Tempur ke Israel, Evakuasi Warga dari Lebanon

Banyak analis mengatakan putaran pembicaraan mendatang antara AS dan Iran dapat menandai kesempatan diplomatik terakhir sebelum kemungkinan operasi militer gabungan oleh AS dan Israel terhadap Iran.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026