Logo Header Antaranews Riau

Greenland Tolak Tekanan Luar, PM: Belum Ada Deal yang Terwujud

Sabtu, 31 Januari 2026 13:59 WIB
Image Print
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen (kiri, di atas salju) terlihat saat demonstrasi menentang tindakan dan pernyataan AS yang berupaya menguasai Greenland di Nuuk, ibu kota Greenland, wilayah otonom Denmark, 17 Januari 2026. (Xinhua/Anders Kongshaug)

Oslo (ANTARA) - Belum ada kesepakatan yang tercapai mengenai Greenland dan situasinya masih menantang, kata Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen dalam wawancara dengan Greenlandic Broadcasting Corporation yang dipublikasikan pada Jumat (30/1).

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pekan lalu mengatakan di akun media sosial Truth Social miliknya bahwa pembicaraan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte telah menghasilkan "kerangka untuk kesepakatan masa depan" terkait Greenland dan kawasan Arktik yang lebih luas.

Baca juga: Di Tengah Ancaman AS, Greenland Buka Pintu bagi Penguatan Militer

"Pemerintah sedang mengejar klarifikasi melalui jalur yang tepat," kata Nielsen, seraya menambahkan bahwa Trump terus menunjukkan ketertarikan untuk mengambil alih Greenland.

Menghadapi tekanan dari AS, Nielsen menekankan pentingnya memperkuat kerja sama dengan para mitra dari NATO dan Uni Eropa (UE).

"Kami akan melakukannya selangkah demi selangkah untuk memperkuat kerja sama di bidang bisnis, budaya, pendidikan, dan bidang lainnya," ujarnya.

Saat berbicara soal kunjungan terbaru ke Jerman dan Prancis, Nielsen mengatakan kedua negara tersebut telah menegaskan dukungan mereka terhadap Greenland dalam berbagai cara.

Baca juga: PM Denmark Sambangi Greenland, Tegaskan Dukungan di Tengah Masa Sulit

Greenland, pulau terbesar di dunia, adalah wilayah otonom dalam lingkup Kerajaan Denmark, dengan Kopenhagen memegang kendali atas pertahanan dan kebijakan luar negeri.

Sejak kembali menjabat pada 2025, Trump berulang kali menyatakan keinginan untuk "menguasai" Greenland, langkah yang berulang kali ditolak oleh Eropa.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026