Logo Header Antaranews Riau

Serangan Jantung Bisa Mempercepat Penurunan Daya Ingat

Senin, 18 Mei 2026 16:21 WIB
Image Print
Arsip foto - Warga melakukan senam bersama sehat jantung saat peringatan Hari Kesehatan Nasional di Lapangan Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (12/11/2024). (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/agr.)

Jakarta (ANTARA) - Penelitian baru menemukan penyintas serangan jantung memiliki risiko kehilangan ingatan 5 persen yang lebih cepat dan penurunan fungsi kognitif seiring bertambahnya usia dibandingkan orang yang tidak pernah mengalami serangan jantung.

Dikutip dari laman Everyday Health, Senin, penelitian dilakukan terhadap 20.000 orang dewasa kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat selama kurang lebih satu dekade. Para peneliti menemukan orang yang mengalami serangan jantung yang tidak terdiagnosis dengan gejala yang ringan, tidak lazim, atau tidak disadari, memiliki tingkat penurunan kognitif yang lebih tinggi, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat serangan jantung sebelumnya.

Baca juga: Tekanan Darah di Usia Muda: Penentu Risiko Jantung di Masa Tua

“Studi kami menemukan bahwa mereka yang pernah mengalami serangan jantung, termasuk serangan jantung tanpa gejala, adalah salah satu kelompok yang berisiko lebih tinggi. Seiring bertambahnya usia, risiko masalah kognitif dan demensia meningkat, dan beberapa orang mungkin memiliki risiko penurunan kognitif yang lebih tinggi,” kata penulis utama studi tersebut Mohamed Ridha, MD, yang juga asisten profesor neurologi di The Ohio State University, Amerika Serikat.

Direktur neurologi vaskular dan profesor di departemen neurologi dan rehabilitasi di University of Illinois Fernando Testai, MD, PhD mengatakan kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung dapat berkontribusi kepada gangguan kognitif melalui beberapa jalur, termasuk berkurangnya aliran darah ke otak, peradangan, kerusakan pembuluh darah, stroke "diam" kecil atau cedera otak, dan perubahan pada sawar darah-otak.

Sementara itu seorang profesor neurologi dan bedah saraf di Loyola University dengan spesialisasi neurologi vaskular dan perawatan neurokritis, Michael J. Schneck, MD, mengatakan pasien dengan faktor risiko kardiovaskular (termasuk hipertensi, hiperlipidemia atau kolesterol tinggi, dan/atau diabetes) juga memiliki risiko lebih besar terkena penyakit Alzheimer.

Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami mekanisme spesifik di balik mengapa dan bagaimana serangan jantung dapat berkontribusi pada penurunan kognitif, dan apakah intervensi spesifik setelah serangan jantung dapat membantu menurunkan risiko demensia.

Baca juga: Dokter: Kenali Riwayat Keluarga untuk Cegah Hipertensi dan Masalah Jantung

Testai menunjukkan bahwa meskipun para peneliti telah menyesuaikan banyak faktor yang dapat memengaruhi penurunan kognitif, mereka tidak mempertimbangkan semuanya, termasuk beberapa faktor risiko yang sudah diketahui seperti gangguan tidur, pola makan yang buruk, obesitas, dan riwayat keluarga penyakit Alzheimer.

Penting bagi para dokter yang merawat penyintas serangan jantung untuk juga memberikan konseling tentang cara menghindari penurunan kognitif dan demensia. Para ahli merekomendasikan untuk fokus pada kebiasaan gaya hidup, dengan menyarankan orang-orang untuk tetap aktif secara fisik, mengonsumsi makanan yang menyehatkan jantung, mengelola tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, hindari merokok, tidur yang cukup, serta mempertahankan berat badan yang sehat.

Schneck juga merekomendasikan untuk rutin berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan tentang cara meningkatkan kesehatan jantung.




Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026