Logo Header Antaranews Riau

BI: Tingginya Impor Riau Bakal Pengaruhi Inflasi

Rabu, 4 Juni 2014 21:08 WIB
Image Print

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Bank Indonesia mengkhawatirkan besarnya ketergantungan impor akan berpengaruh terhadap tekanan inflasi nasional pada tahun ini, khususnya di Provinsi Riau.

"Pemerintah harus segera mengurangi impor karena bagaimana ekonomi mau bangkit kalau impor kita masih besar," ujar Asisten Direktur Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Riau, Abdul Majid Ikram, di Pekanbaru, Rabu.

Ia mengatakan, beberapa waktu lalu pemerintah telah menyelenggarakan Rakor Pengendalian Inflasi Daerah secara nasional di Jakarta. Menurut dia, besarnya nilai impor saat ini juga mempersulit daya dorong bagi industri daerah atau lokal.

"Defisit ini juga disebabkan masih fluktuatifnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Inilah makanya dilakukannya Rakor supaya daerah mampu mengatasi inflasi di daerah masing-masing," katanya.

BI juga mengintensifkan koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk memenuhi kebutuhan barang-barang lokal. Sementara itu, tekanan impor barang elektronik, seluler serta makanan dan mnuman jadi juga dikhawatirkan masih terus.

Ia mengatakan, menghadapi bulan Ramadhan dan lebaran Idul Fitri tahun ini BI memprediksi inflasi masih di Riau terjaga di kisaran 0,2 persen. "Kalaupun terjadi kenaikan inflasi, diprediksi tidak akan lebih dari 0,3 persen," katanya.

Menurut dia, tindakan nyata yang akan dilakukan untuk mengantisipasi inflasi jelang Lebaran adalah melakukan pemantauan pasar secara langsung baik terhadap stok maupun harga barang.

Masalah transportasi dalam distribusi bahan pookok diperkirakan bisa diatasi karena pemerintah sudah mengantisipasi dengan membenahi infrastruktur.

"Kita harapkan kondisi tetap kondusif jelang Ramadhan, Idul Fitri dan Pilpres nanti supaya inflasipun terjaga di 0,2 persen," harapnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan nilai impor Provinsi Riau bulan pada April 2014 mencapai 184,65 juta dolar AS, atau naik sebesar 46,40 persen dibanding bulan Maret yang mencapai 126,12 juta dolar AS. Kontribusi Nilai impor Riau terhadap Nasional bulan April sebesar 1,14 persen.

Meski begitu, secara komulatif nilai impor Januari-April 2014 sebesar 634,21 juta dolar atau turun 1,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2013 sebesar 642,28 juta dolar AS. Ia mengatakan impor minyak dan gas (migas) bulan April mencapai 44,76 juta dolar AS atau naik 542,44 persen dibanding impor bulan Maret yang besarnya 6,97 juta dolar AS. Sedangkan, impor migas Januari-April sebesar 100,87 juta dolar AS atau turun sebesar 20,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, impor nonmigas April 2014 mencapai 139,88 juta dolar AS atau naik 17,39 persen dibanding impor bulan Maret yang besarnya 119,16 juta dolar AS. Sedangkan impor nonmigas Januari-April 2014 mengalami kenaikan sebesar 3,38 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Impor nonmigas pada Januari-April didominir oleh Mesin-mesin/Pesawat Mekanik sebesar 258,50 juta dolar AS (48,47 persen), diikuti Pupuk 100,99 juta dolar AS (18,94 persen), Bahan Kimia Organik 30,39 juta dolar AS (5,70 persen), dan Mesin/Peralatan Listrik 19,91 juta dolar AS (3,73 persen).

Kontribusi keempatnya mencapai 76,84 persen dari total impor.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026