M Nur menjadi cahaya warga Tualang

id ikm tunas harapan,PT IKPP, indah kiat

M Nur menjadi cahaya warga Tualang

M Nur sedang menyaksikan emak-emak membuat aneka kerajinan dari tali plastik bekas di work shop IKM Tunas Harapan. (ANTARA/Riski Maruto/23)

Tualang (ANTARA) - Bagi M Nur, menjadi seorang pengusaha aneka kerajinan dari tali plastik mungkin tidak ada dalam benaknya. Pria asli Melayu ini akhirnya nekat keluar dari pabrik yang menjadi tumpuan hidupnya, dan memastikan menggeluti pembuatan aneka tas, keranjang, pot atau kerajinan lainnya yang terbuat dari tali plastik bekas.

Saat ditemui di rumahnya, Rabu (15/2) di Kampung Tualang, Kabupaten Siak, M Nur mengisahkan awal mula menggeluti pembuatan kerajinan itu pada tahun 2010. Saat itu hanya tiga orang termasuk dirinya yang membuat keranjang, tas belanja atau pot plastik.

Seiring dengan kegigihannya berusaha, jumlah pembuat keranjang plastik itu meningkat menjadi 45 orang pada tahun 2014. "Dan puncaknya pada 2018, hampir 100 orang bergabung dengan saya untuk membuat aneka tas dan kerajinan lainnya," kata pria asal Bengkalis ini.

Namun saat ini, imbas dari COVID-19, jumlah pengrajin keranjang yang tergabung dalam Industri Kerajinan Menengah (IKM) Tunas Harapan itu menyusut menjadi sekitar 50 orang.

Sebagian pembuat aneka keranjang tersebut adalah kaum ibu karena pekerjaan tersebut pada dasarnya adalah kegiatan sambilan untuk mengisi waktu sambil nonton TV atau bercengkerama dengan keluarga.

Saat ini IKM Tunas Harapan besutan M Nur mampu memproduksi sekitar 500 unit aneka keranjang plastik per bulan dengan omzet sekitar Rp70 juta. Wilayah pemasaran produk IKM binaan PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) Perawang tersebut mencapai Jambi, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. "Tahun ini, produk kita sudah masuk ke Aceh," kata pria yang sudah dikarunia tiga anak ini.

Berkat keuletannya dalam mengembangkan ekonomi masyarakat, M Nur pernah diganjar penghargaan oleh Gubernur Riau Rusli Zainal pada tahun 2010. Dan pada 2012 mendapat juara III nasional dengan kategori serupa.

Emak-emak edang membuat aneka keranjang plastik di IKM Tunas Harapan binaan dari PT IKPP Perawang, Siak. (ANTARA/Riski Maruto/23)


Kebetulan lokasi IKM Tunas Harapan tersebut berada di sekitar PT IKPP, perusahaan tersebut pun tertarik untuk membina dengan membantu mendirikan work shop atau semacam bengkel untuk pembuatan dan ruang pamer aneka kerajinan dari tali plastik bekas packing tersebut.

Dulunya, tali plastik bekas pengemasan di pabrik kertas PT IKPP itu dianggap sampah yang tak berguna. Dengan kejelian M Nur, tali plastik tipis dengan lebar 2cm itu dikumpulkannya dan diolah menjadi produk bermanfaat.

Bahkan hingga saat ini, ia mengaku kekurangan bahan baku. Dengan produksinya sekarang IKM Tunas Harapan harusnya membutuhkan 8 ton tali plastik tiap bulan namun yang tersedia 3 ton saja. "Itu saja yang bisa kami manfaatkan sambil mencari dari sumber lainnya seperti dari Sumatera Selatan," jelas M Nur.

Tali plastik bekas itu dibelinya seharga Rp3.636 per kilogram untuk selanjutnya diolah menjadi aneka barang. Produk IKM Tunas Harapan ini dijual seharga Rp15 ribu hingga Rp140 ribu.

Pahlawan emak-emak

Bagi emak-emak di Kampung Tualang, Kecamatan Tualang, M Nur bisa saja dianggap sebagai pahlawan karena mampu menciptakan lapangan kerja dengan upah Rp700 ribu hingga Rp1,4 juta per bulan tergantung banyaknya produksi yang dicapai.

Salahsatunya Evi. Dia bergabung dengan IKM Tunas Harapan sejak tujuh tahun silam dan mampu mengumpulkan penghasilan sekitar Rp1,4 juta per bulan dengan pekerjaan yang tergolong santai dan tanpa jam kerja pasti.

"Saya bersyukur bisa membantu ekonomi keluarga dan untuk jajan anak-anak," kata Evi.

Pengakuan Evi bisa saja mewakili puluhan emak-emak lainnya yang berada di Kampung Tualang itu. Pada 2008, sejumlah perusahaan di desa itu tutup sehingga banyak pengangguran. Beberapa kaum ibu mencoba membantu perekonomian keluarga dengan bergabung bersama IKM Tunas Harapan.

Bahkan anggota IKM tersebut juga ada yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang bernama Adi namun akrab disapa Lombok.

Ia dan istrinya mengaku mendapat penghasilan mencapai Rp3 juta per bulan dari membuat aneka keranjang plastik tersebut.

Kini M Nur berpikir keras bagaimana mendapatkan bahan baku tambahan untuk meningkatkan jumlah produksinya. Ia juga sudah menghubungi perusahaan yang masih satu grup dengan Sinar Mas yang berada Okan Kemering Ilir di Sumatera Selatan. Semoga harapannya tercapai, tentu saja dengan bantuan perusahaan yang ada di Kabupaten Siak ini.