
Asita: Riau Harus Belajar Dari Pembatalan ISG

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Asosiasi Agen Tour dan Travel Indonesia (Asita) mengatakan Provinsi Riau harus belajar dari pembatalan Islamic Solidarity Games (ISG) 2013 karena banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari situ.
"Ada banyak pelajaran yang harusnya bisa diambil dari pembatalan Riau sebagai tuan rumah ISG dengan mengambil hikmah, tanpa melihat kesalahan yang terjadi," ujar Ketua Asita Riau Ibnu Mas'ud di Pekanbaru, Jumat.
Menurut dia, Riau harusnya perlu belajar lebih banyak lagi bagaimana menggelar "event" dalam skala internasional dan punya standar tinggi dalam pelaksanaan karena ISG diikuti banyak negara, khususnya negara-negara Islam.
Bukan saja dalam olahraga dan industri, seperti pertemuan, insentif, konvensi, pameran (MICE) yang menguntungkan bagi pemilik hotel dan restoran, melainkan juga semua pihak.
"Sudah saatnya juga kita evaluasi bersama yang bertujuan jika suatu saat nanti Riau dipercaya lagi, hal seperti ini diharapkan tidak terulang kembali," ucapnya.
Banyaknya kepentingan dari beberapa pihak terhadap penyelenggaraan ISG di Pekanbaru dengan tujuan yang berbeda dari segelintir orang, menurut dia, membuat kegiatan itu tidak terlalu serius digarap.
"Orientasi itu harusnya sudah diubah saat ini juga. Jangan lagi berorientasi pada proyek saja, tetapi bisa lebih serius lagi dalam menyiapkan 'event' yang digelar," katanya.
Sebelumnya, Menpora Roy Suryo sangat mengapresiasi keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi menahan Gubernur Riau Rusli Zainal sehingga hal itu makin memperkuat keputusan memindahkan ISG dari Pekanbaru ke Jakarta.
Pewarta : Muhammad Said
Editor:
Muhammad Said
COPYRIGHT © ANTARA 2026

