Logo Header Antaranews Riau

Saat Pak Bupati Jadi Tukang Masak

Senin, 20 Mei 2013 07:37 WIB
Image Print

Petapahan, (Antarariau.com) - Usai sholat, lelaki 53 tahun itu langsung menerobos dinginnya subuh menuju dapur umum di sebelah kiri Masjid Raya Tapung yang berdiri kokoh di kawasan Jalan Lintas Petapahan-Ujung Batu itu.

Pemilik tubuh sehat berbalut kaos tipis serta kain sarung itu adalah Jefry Noer, Bupati Kampar. Namun di subuh itu, mantan anggota DPRD Riau tersebut cuma masyarakat biasa yang akan memasak sarapan pagi buat puluhan orang anak buahnya. Mulai dari Asisten, hingga pejabat eselon IV.

Bukan sekali ini Jefry jadi tukang masak. Tapi sudah sejak dua bulan lalu, persis saat program safari dakwah pembangunan pemerintah Kabupaten Kampar itu mulai berjalan. Bahkan untuk makan malam pun, Jefry juga membikin.

Kalau tak lagi sibuk, sang istri, Eva Yuliana, kadang nimbrung di sana. Membantu sang suami membikin sarapan atau sekadar mengaduk kopi. Saling suap untuk sekadar mengcicip hasil masakan, menjadi pemandangan unik di dapur umum itu.

Kalau masakan sudah siap santap, Jefry kemudian membasuhi tangan anak buahnya. “Pertama kali Pak Bupati mencucikan tangan saya, saya benar-benar kaget. Kayak mimpi saja,” ujar salah seorang staf Jefry.
Lelaki ini tak mau namanya disebut mengatakan Bupati tak mau ada nasi yang tersisa.

Mulai dua bulan lalu, Jefry menjalankan program "jemput bola" tadi. Tiap minggu, dari Jumat sore hingga Minggu malam, sejumlah anak buahnya diajak mondok di Masjid Raya yang ada di tiap kecamatan. Dapur umum serta kelengkapan lain milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diboyong.

“Tiap malam kami ikhtikaf. Lantaran digilir, masing-masing staf kebagian "Jatah" tidur di masjid sekali sebulan,” cerita Jefry.

Di gawe mingguan ini Jefry dan anak buahnya tak sekadar shalat berjamaah, mendengar tausiyah, shalat malam atau shalat sunnah lainnya. Tapi justru berinteraksi dengan warga yang diundang hadir ke masjid itu, lepas maghrib.

Apa saja keluhan warga boleh tumpah ruah di sana. Besok paginya, keluhan yang dianggap mendesak langsung dianalisa oleh setiap Satuan Kerja (Satker). Kalau musti turun ke lapangan, pagi itu juga tim terkait langsung bergerak.

“Hasil dari lapangan langsung kami analisa. Yang langsung bisa kami atasi, segera diatasi. Yang harus masuk APBD, segera kami anggarkan di APBD Perubahan,” ujar Jefry.

Meski gawe semacam ini menguras energi, Jefry malah mengaku senang. “Capeknya hilang saat saya bisa bertemu warga. Makanya, selagi saya masih Bupati Kampat, program ini akan jalan terus. Biar warga saya lebih dekat dengan pemimpinnya dan persoalan yang mereka hadapi bisa lebih cepat teratasi,” pungkasnya.

Bagi sejumlah staf, mondok di masjid tak sekadar ingin merasakan tidur di lantai. Lebih dari itu, ikhtikaf yang digelar justru sangat bermanfaat. “Sebab di sini kita bisa ‘berperang’ melawan ego, belajar bersyukur, sabar, hingga tafakur. Memang, tak semua orang senang dengan acara semacam ini, khususnya bagi mereka yang imannya sedang down,” kata salah seorang staf yang sudah empat kali ikut mondok di masjid itu.



Pewarta :
Editor: Netty Mindrayani
COPYRIGHT © ANTARA 2026