
NOAA Deteksi 889 Hotspot di Sumatra

Pekanbaru, (antarariau.com) - Satelit NOAA 18 yang dioperasikan Singapura mendeteksi kemunculan debanyak 889 titik panas (hotspot) di daratan Pulau Sumatra sejak 1 hingga 20 Maret 2013, kata Analis BMKG Pekanbaru, Aristya Ardhitama.
Aristya yang ditemui Antara di ruang kerjanya di Pekanbaru, Kamis, mengatakan, ratusan titik panas tersebut tersebar di seluruh wilayah provinsi se Sumatra.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat, kemunculan titik panas terbanyak terjadi pada 1 Maret dengan jumlah yang mencapai 204 titik dimana untuk Riau terdeteksi ada sekitar 22 'hotspot'.
Untuk ditanggal18 Maret dengan jumlah mencapai 137 'hotspot' dimana di Riau ketika itu terdeteksi ada sebanyak 82 titik.
Kemudian pada tanggal 17 Maret, demikian Aristya, Satelit NOAA mendeteksi kemunculan sebanyak 92 titik panas, di Riau ada sekitar 57 'hotspot'.
Sementara ditanggal 9 Maret ada sebanyak 69 titik api, di Riau ketika itu ada sekitar 30 'hotspot'.
Selama pekan pertama hingga memasuki pekan ketiga Maret 2013, demikian Aristya, kemunculan titik panas cenderung fluktuasi.
"Jumlahnya bisa meningkat dan terkadang juga bisa berkurang. Tergantung dari kondisi cuaca. Jika hujan, maka potensinya berkurang, namun juga panas, bisa meningkat," katanya.
Menurut Aristya, kemunculan titik panas di sejumlah wilayah Sumatra merupakan tanda terjadinya peristiwa kebakaran hutan atau lahan.
Kondisi demikian menurut dia sangat disayangkan dan merugikan masyarakat luas, terlebih dampak dari kebakaran hutan tersebut bisa pada kemunculan asap.
Akibat dari kemunculan kabut asap tersebut, kata dia, maka sangat dimungkinkan menganggu aktivitas penerbangan dan kesehatan masyarakat.
"Kami mengimbau agar masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan untuk kepentingan apapun," katanya. ***4*** (T.KR-FZR)
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

