
PON, Dari Riau Untuk Nusantara

Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di Provinsi Riau boleh dibelit beragam masalah hukum dan kritikan, namun perhelatan akbar tetap saja dinanti banyak pihak untuk terus berlangsung.
Meski dibayang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah terkuak adanya kasus gratifikasi di tubuh PON Riau, perhelatan multievent olahraga nasional ini terus berlanjut dengan ragam arena pertandingan yang minimalis.
PON XVIII di Riau telah berjalan dan rencananya akan dilaksanakan selama 12 hari. Upacara pembukaan telah dilaksanakan pada tanggal 11 September dengan langsung dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono.
Sementara ritual penutupan rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 20 September mendatang.
Secara umum sebenarnya pelaksanaannya telah dimulai sejak tanggal 9 September, mengingat beberapa cabang olahraga telah dipertandingkan untuk mengejar waktu hingga 20 September (waktu penutupan).
PON Riau kali ini mempertandingkan sebanyak 39 cabang olahraga dengan nomor dan medali yang diperebutkan yakni sebanyak 555.
Lokasi pelaksanaan ragam cabang olahraga itu tersebar di sebanyak sepuluh kabupaten/kota di Provinsi Riau.
Momen penyelenggaraan PON di Riau yang sempat carut marut ini tidak disangka telah lama dilirik oleh sejumlah kalangan industri kreatif asal banyak daerah.
Para pelaku industri rumahan itu berlomba untuk menunjukkan kreativitas nyata yang dapat diperjualkan selama penyelenggaraan multievent itu.
Seluruhnya nyaris berbau tentang PON Riau. Mulai dari baju, topi, tas, jaket, dan ragam pernak-pernik atau sovenir khas PON Riau didatangkan oleh para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) berbagai wilayah nusantara.
Para pelaku UKM ini memanfaatkan momen untuk peningkatan ekonomi keluarga dengan menampilkan ragam produk unggulan itu.
Seluruhnya bergambarkan logo PON XVIII yakni berupa layar dan gelombang yang melambangkan daerah "Lancang kuning" yang memiliki ragam makna tersendiri.
Tidak lupa pula, para pelaku UKM dan industri kreatif itu memasangkan gambar maskot PON Riau yang merupakan seekor burung serindit berpenampilan khas melayu.
UKM Nusantara
Para pelaku UKM dan industri kreatif asal ragam wilayah se nusantara itu mengisi tiap stan pada bazar PON Riau yang disediakan oleh panitia.
Seperti Andrea, pelaku UKM asal Sumatra Barat yang mengisi stan pada bazar di depan Stadion Khaharuddin Nasution Pekanbaru.
Tidak tanggung-tanggu, ia mentargetkan raup omzet hasil penjualan hingga puluhan juta pada momen Pekan Olahraga Nasional XVIII di Riau.
"Sebelumnya memang belum seberapa. Namun saat ini omzet kami benar-benar memuaskan dan telah lebih Rp2 juta per hari," kata Andrea seorang padagang asal Sumbar yang menjual ragam kerupuk khas wilayahnya.
Stadion yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota itu memiliki sejumlah arena olahraga yang dipertandingkan, mulai lapangan sepak bola, menembak, renang dan lainnya.
Andrea mengakui menaruh target pencapaian omzet keseluruhan hingga akhir PON yakni sekitar Rp60 juta.
Dia menjual bermacam aksesoris seperti gantungan kunci dan lainnya dengan tetap menempelkan lambang dan maskot PON Riau berupa burung serindit.
Ia mengakui membuat sendiri berbagai aksesoris PON itu dengan dibantu beberapa warga Sumbar lainnya.
"Yang jelas yang membuat aksesoris PON ini rata-rata kalangan usaha kecil atau UKM. Bahkan kami melibatkan ibu-ibu rumahtangga," katanya.
Pernyataan senada juga diungkapkan Pipi yang juga pelaku UKM asal Sumbar.
"Targetnya kalau bisa bawa uang lebih Rp30 juta biar bisa beli kerbau di kampung," katanya.
UKM Bandung
Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) asal Bandung juga mengakui telah meraup keuntungan berlimpah dengan memanfaatkan momen nasional itu.
Perharinya, mereka mengaku telah meraup omzet hingga jutaan rupiah dengan berjualan di bazar yang dibuka tepat di depan Stadion Khaharuddin Nasution Pekanbaru.
"Sehari sampai Rp2 juta omzet yang kami dapat. Namun ada juga teman yang omzetnya lebih Rp3 juta per hari," kata Ardi Mukhtar pedagang boneka burung serindit yang merupakan maskot PON XVIII/2012 di Riau.
Ayah dua anak itu mengaku datang ke Pekanbaru, Riau sejak satu pekan lalu bersama sejumlah warga Bandung, Jawa Barat lainnya yang juga pelaku UKM.
Ardi mengaku menjual boneka burung serindit dengan harga Rp100 ribu. "Tidak ada ukuran yang lebih besar, atau yang lebih kecil, semuanya satu ukuran saja," kata dia.
Ardi mengatakan per harinya laku sebanyak 20 boneka namun dia optimistis akan berhasil menjual lebih banyak lagi mengingat PON di Riau baru saja dilaksanakan dan masih menyisahkan banyak hari.
Dia mengaku membawa cukup banyak boneka hasil kerajikan keluarga dan sejumlah warga Bandung lainnya ke Pekanbaru, Riau.
"Ada sekitar 500 boneka yang saya bawa dan dijual di beberapa stan yang tersedia di beberapa arena pertandingan. Pedagang-pedagang itu merupakan warga Bandung juga," kata dia.
Ardi mengaku menyiapkan hasil kerajinan itu sejak lama agar menghasilkan cukup banyak boneka burung serindit.
"Sejak bulan puasa lalu saya dan warga Bandung lainnya sudah mengerjakan untuk membuat boneka burung serindit. Satu hari per keluarga menghasilkan maksimal sepuluh boneka. Alhamdulillah, saat ini sudah 500 boneka yang saya bawa ke Pekanbaru," katanya.
Adnan pelaku UKM asal Bandung lainnya juga mengaku dalam sehari berhasil meraup keuntungan hingga jutaan rupiah.
"Ya, sekitar dua sampai tiga juta lah," katanya saat ditanya terkait besaran omzet yang didapat dalam sehari selama membuka stan di depan Stadion Khaharuddin Nasution, Pekanbaru.
Bazar di lokasi itu menurut panitia menyediakan sebanyak 50 stan khusus para pelaku UKM.
"Ada sebanyak 50 stan UKM yang sementara ini kami buka di dekat Stadion Khaharuddin," kata Afdhal Zuhri selaku ketua harian bazar Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di Riau.
Namun diakuinya dari 50 stan yang disediakan baru sekitar 40 stan yang terisi oleh para pedagang kecil.
Menurutnya kalangan pedagang di lokasi bazar diisi oleh pengusaha kecil warga tempatan.
Namun penelusuran mengungkap bahwa rata-rata pedagang berasal dari luar daerah Riau, mulai dari Bandung, Yogyakarta, Bali, dan yang mendominasi justru Sumatra Barat.
Bazar di lokasi itu tampak banyak pengunjung dari berbagai kalangan bahkan beberapa diantaranya merupakan wisatawan asing.
Daur Ulang
"Dalang Collection" yang terletak di Jalan Gajah telah juga telah menyiapkan ribuan produk kerajinan seperti tas, sandal, topi, dan gantungan kunci serta aksesoris lainnya.
"Untuk produk tas ada sekitar 300, sandal 200, baju ada seratus, topi 200 serta gantungan kunci sekitar 200 buah dan jenis aksesoris lainnya," kata Soffia Seffen selaku pemilik "Dalang Collection" Pekanbaru pada Senin.
Ia menjelaskan berbagai produk yang merasal dari berbagai sampah rumahtangga dan industri itu telah di pajang pada stan tiap bazar yang di sediakan oleh Panitia Besar Pekan Olahraga Nasional (PB PON) XVIII/2012.
Soffia mengatakan ada beberapa stan di dua lokasi yang telah ditempatinya, baik di Stadion Khaharuddin Nasution Rumbai juga di halaman purna MTQ Pekanbaru.
Pada pemanfaatan momen PON Riau itu Soffia mengaku juga mempekerjakan sedikitnya 40 kaum ibu rumahtangga yang kebetulan tinggal di Pekanbaru.
Walaupun penyediaan stan untuk "Dalang Colletion" terlambat, demikian Soffia, kesiapan diupayakan semaksimalnya dan diharapkan akan menambah kesemarakan PON Riau.
Warung Dalang Collection yang dikelola Soffia terletak persis di Jalan Gajah, RT 01/RW 13 Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.
Di lokasi ini terlihat seklompok pengrajin sampah memerkan keahlian mereka menciptakan berbagai barang seperti tas, sandal, topi dan lainnya.
Sebagainya dibuat dari plastik-plastik bekas yang dikumpulkan para pemulung. Namun sebagiannya lagi dibuat dari ragam jenis kertas bekas.
"Dalang Collection" merupakan binaan Kementrian Negara Lingkungan Hidup RI dan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumatera.
Dalam usaha yang dijalankan Soffia, kebanyakan tenaga kerja direkrut dari keluarga kurang mampu dengan tujuan untuk menaikkan pendapatan mereka dengan usaha mandiri.
Saat ini anggota "Dalang Collection" berjumlah sebanyak 35 orang mulai dari pemulung, keluarga ekonomi lemah serta para ibu-ibu rumahtangga.
Hal ini membuktikan, bahwa PON Riau tidak hanya memberi dampak positif pada pertumbuhan perekonomian masyarakat "Provinsi Kaya Minyak", namun juga rakyat se nusantara.
Jaya PON, sukses Riau. Biarkan "anjing menggonggong, namun kafilah tetap berlalu".
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

