Masyarakat agar sikapi perbedaan hasil uji usap COVID-19 dengan bijak

id uji usap covid,covid riau,rsud arifin achmad pekanbaru

Masyarakat agar sikapi perbedaan hasil uji usap COVID-19 dengan bijak

Praktisi Laboratorium Biomolekuler RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau, dr. Fajri Marindra, M.Kom, M.Biomed (ANTARA/FB Anggoro)

Pekanbaru (ANTARA) - Praktisi Laboratorium Biomolekuler RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau, dr. Fajri Marindra, M.Kom, M.Biomed menerima laporan terkait adanya perbedaan hasil uji usap atau swab antara laboratorium pada rumah sakit yang berbeda.

"Seorang pasien mendapatkan hasil positif SARS-CoV-2 pada laboratorium A, kemudian karena merasa tidak puas pasien tersebut kembali melakukan pemeriksaan ditempat lain dan hasil yang keluar adalah negatif SARS-CoV-2. Laporan seperti ini beberapa kali saya terima dari pasien," sebut dr. Fajri dalam keterangan tertulisnya di Pekanbaru, Senin.

Menanggapi hal itu, dr. Fajri yang juga berprofesi sebagai Dosen KJF Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Riau (UR) meminta agar masyarakat menyikapi perbedaan hasil swab secara bijak.

Lebih jauh dia mengulas tentang metode pemeriksaan SARS-CoV-2 yakni mengenal pemeriksaan RT-PCR COVID-19. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan baku emas atau gold standart dalam mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 yang ada pada sampel yang diperiksa, baik sampel tersebut berasal dari swab tenggorokan, swab hidung, dahak, atau sampel lainnya.

"Artinya metode ini memberikan hasil yang sangat akurat dalam mendeteksi keberadaan virus dibandingkan pemeriksaan lainnya," katanya.

Namun demikian menurut kepustakaan, lanjut dia, metode ini memiliki akurasi sensitivitas sekitar 80 persen dan spesifisitaslebih 99 persen artinya jika didapatkan hasil positif maka dapat dipastikan yang terdeteksi adalah benar virus SARS-CoV-2, namun jika negatif hasil tersebut masih memiliki peluang kesalahan sebesar 20 persen atau negatif palsu. Kemudian, pada pemeriksaan RT-PCR COVID-19, adapun komponen yang dideteksi adalah gen target dari virus. Virus SARS-CoV-2 sendiri memiliki banyak gen seperti gen yang mengkode protein replikase, spike, envelope, membrane (M), nucleocapsid (N).

"Sehingga kit/bahan RT-PCR yang digunakan oleh laboratorium akan sangat bervariasi tergantung dari ketersediaan bahan dari masing-masing laboratorium," katanya.

Dia menjelaskan, ada kit atau bahan PCR COVID-19 yang hanya mendeteksi gen N1 dan N2, ada kit RT-PCR yang mendeteksi dua gen sekaligus dan ada pula kit RT-PCR yang mendeteksi tiga gen sekaligus. Semakin banyak gen yang dapat dideteksi tentu selaras dengan hasil pemeriksaan yang menjadi lebih akurat.

Selain adanya variasi kit atau bahan RT-PCR, pemeriksaan RT-PCR COVID-19 juga dipengaruhi oleh waktu dan teknik pengambilan serta transportasi sampel.

"Virus yang akan dideteksi ini jumlahnya dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu, sehingga untuk mendapatkan hasil positif diperlukan kadar virus yang cukup (memenuhi ambang batas alat) pada sampel yang diperiksa," sebutnya.

Jika pada saat pemeriksaan virus yang terambil cukup kadarnya, maka akan memberikan hasil positif atau terdeteksi pada pemeriksaan RT-PCR. Sebaliknya jika pada saat pengambilan sampel, virus yang terambil tidak cukup, karena dinamika kadar virus yang sedang menurun atau kurang optimalnya teknik sampling yang dilakukan, maka pada pemeriksaan RT-PCR akan memberikan hasil yang negatif palsu yang artinya virus sebenarnya ada, namun tidak dapat terdeteksi.

"Selain adanya faktor di atas, masih terdapat beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi perbedaan hasil RT-PCR COVID-19 seperti kualitas sampel yang diambil, kualitas media transport (untuk penyimpanan sampel), perbedaan teknik isolasi gen, keterampilan operator dan lainnya," ucapnya.

Menurutnya, banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan RT-PCR COVID-19, terlebih lagi jika sampel yang diambil sudah pada waktu yang berbeda maka akan sangat mungkin ditemukan adanya perbedaan hasil tersebut. Atas kondisi itu, dia mengatakan untuk menyikapi perbedaan hasil tersebut, masyarakat selaku konsumen sebaiknya bisa menerima hasil laboratorium dengan bijak. Masyarakat harus lebih mawas diri dengan gejala yang dialami dan menaati protokol kesehatan yang ada.

"Jika hasil swab positif dan kita bergejala, segera lakukan pemeriksaan pada fasilitas kesehatan rujukan COVID-19. Namun jika hasil swab positif dan kita tanpa gejala (OTG), laksanakan isolasi mandiri sesuai anjuran pemerintah," katanya.

Dia menyarankan lebih baik mengisolasi diri sehingga dapat mengurangi penularan virus COVID-19, dari pada melakukan pemeriksaan di laboratorium lain kemudian mendapatkan hasil negatif sehingga kita mengabaikan proses isolasi mandiri.

Dia juga meminta agar stigma buruk pasien terkonfirmasi COVID-19 perlu dihilangkan dari masyarakat. Karena COVID-19 bukanlah suatu aib, melainkan penyakit akibat virus yang dapat menginfeksi tanpa menimbulkan gejala dan sebagian besar penderitanya dapat sembuh.

Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar