
NOAA deteksi 169 titik api panas

Pekanbaru (ANTARARIAU News) - Satelit "National Oceanic and Atmospheric Administration" (NOAA) 18 milik Singapura mendeteksi sedikitnya 169 titik panas (hotspot) di Sumatra, dimana Provinsi Riau mendominasi kemunculannya yakni mencapai 60 titik.
Analis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Pekanbaru, Ardhitama di Pekanbaru, Rabu, menguraikan sebaran titik panas terbanyak berikutnya terdeteksi NOAA (satelit milik Singapura) di daratan Provinsi Jambi.
Kemudian Sumatra Selatan (25), Sumatra Barat (21), Sumatra Utara (10), Aceh (11), Bengkulu (9) dan daratan Provinsi Lampung terdeteksi satu titik panas.
"Untuk di Riau sendiri, sebanyak 60 titik panas tersebar di hampir seluruh wilayah daratan kabupaten/kota," katanya.
Terbanyak, demikian Ardhitama, terdeteksi berlokasi di Kabupaten Indragiri Hulu, kemudian disusul Rokan Hilir dan Kabupaten Pelalawan masing-masing sembilan "hotspot".
Kemudian di Kabupaten Bengkalis (8), Rokan Hulu (6), Siak (4), Indragiri Hilir (2), serta Kabupaten Kuantansingingi, Kota Dumai dan Pekanbaru masing-masing muncul satu titik panas.
"Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sejak Februari hingga Maret 2012 ini. Sebelumnya, titik panas di Sumatra tidak pernah melampaui seratus titik dan Riau selalu kurang dari 40 titik panas," ujarnya.
Suhu Atas Normal
Sebelumnya sejumlah warga di Kota Pekanbaru mengaku merasakan suhu udara di sana kian panas, khususnya pada siang hari, yakni pukul 12.00 hingga 16.00 WIB.
Menanggapi panas berlebihan yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Riau termasuk Kota Pekanbaru sejak beberapa hari terakhir, Ardhitama mengakui kondisi tersebut disebabkan suhu udara yang tengah berada diatas normal.
"Bahkan untuk hari ini, sekitar pukul 14.00 WIB, suhu udara sempat mencapai 34,2 derajat Celsius. Kondisi demikian sudah mendekati ekstrem," katanya.
Ardhitama menjelaskan, secara global penyebab kondisi panas diatas normal untuk sebagian wilayah Riau adalah terjadinya pembentukan daerah tekanan rendah di Filipina.
Kondisi demikian yang kemudian menurut dia, menyebabkan awan-awan bergerak ke arah daerah tekanan rendah yang dimaksud.
"Artinya, masa udara dan awan yang harusnya berpotensi mendatangkan hujan di satu wilayah Tanah Air, semua bergerak ke Filipina. Hal demikian yang kemudian menyebabkan terjadinya peningkatan suhu udara secara drastis di sebagian wilayah Tanah Air termasuk Riau," ujarnya.
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

