Logo Header Antaranews Riau

Warga Riau diseru bahasa Melayu

Rabu, 15 Februari 2012 08:50 WIB
Image Print

Pekanbaru (ANTARARIAU News) - Gubernur Riau, HM Rusli Zainal, mengajak seluruh jajaran tokoh adat dan para pejabat di lingkup pemerintahan di provinsi berjuluk 'Bumi Lancang Kuning' itu, agar semakin mengangkat harkat martabat budaya Melayu Riau.

"Telah banyak yang mulai kita lakukan menuju visi Riau Pusat Peradaban Kebudayaan Melayu 2020, termasuk menggunakan busana Melayu tiap hari Jumat. Mari sekarang kita canangkan 'Jumat Berbahasa Melayu'," katanya, Selasa.

Ini merupakan satu dari sejumlah pemikiran strategis yang dikemukakannya sebagai 'Sri Datuk Setia Amanah', ketika didaulat menjadi 'pembicara kunci' pada Musyawarah Besar (Mubes) IV Lembaga Adat Melayu Riau, di Gedung Daerah, Pekanbaru.

"Kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau sudah jelas, yakni sesuai Visi Riau 2020 dan sudah diberi landasan hukum dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 36," tandasnya.

Tujuannya, menurutnya, untuk menegakkan marwah Melayu yang beradab dan bermartabat di tengah dinamika pergaulan dunia.

"(Budaya Melayu) tak boleh tererosi, harus lestari turun temurun selama peradaban ada di bumi, sebagaimana amanat Hang Tuah," tegasnya di hadapan para tokoh adat yang ber-Mubes dengan tema "Peranan Lembaga Adat Melayu Riau dalam Mewujudkan Visi Riau 2020".

Karena itu, ia mengingatkan, agar seluruh elemen dan eksponen Melayu Riau harus aktif menggali budaya khas ini, sehingga tak kerdil.

"Kita harus bisa menjadikanya sebagai budaya yang mendunia dan menjadi cermin peradaban. Karenanya, kita tidak boleh berpikir secara kerdil," katanya.


Rela Diakui Dunia

Rusli Zainal juga meminta, agar cara berpikir kerdil yang seolah lebih ingin menjadikan Budaya Melayu (Riau) itu milik ekslusif, harus dibuang jauh-jauh.

"Sebaliknya, kita harus rela agar berbagai produk Budaya Melayu Riau itu bisa mendunia, diakui bangsa-bangsa dan dapat dengan akrab digunakan orang-orang dari negara lain," tuturnya.

Misalnya saja, menurutnya, tidaklah perlu kita marah atau tersinggung, jika ada pihak dan bangsa lain yang membawakan lagu-lagu Melayu (Riau), juga tariannya serta busana maupun produk-produk budaya tertentu.

"Yang penting sekarang, kita harus mampu mengangkat harkat yang mampu bersaing, tak sekadar jadi penonton," tandasnya.

Untuk itu, ia mengajukan beberapa langkah strategis, menyongsong Visi Riau 2020.
"Pertama, mengaktualisasikan rencana membangun pusat kegiatan Lembaga Adat Melayu Riau dalam suatu kawasan bangunan yang representatif sesuai komitmen menjadikan Riau Pusat Kebudayaan Melayu," ujarnya.

Selanjutnya, peran Pemprov dan seluruh Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Kota harus jelas serta signifikan, yang tergambar dalam program, juga dukungan anggaran (APBD).

"Berikutnya, merancang Seminar Nasional Bahasa Indonesia yang diikuti perutusan 17 provinsi dan puluhan perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri. Di sini harus ditegaskan, bahwa bahasa nasional kita (Indonesia) benar-benar berasal dari bahasa Melayu," katanya.

Terkait hal ini, demikian Rusli, direncanakan membangun Monumen Bahasa Indonesia, yang memang berasal dari wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dan Provinsi Riau.

"Lalu langkah strategis berikutnya yang mesti ditindaklanjuti segera, ialah, 'Jumat Berbahasa Melayu' itu tadi. Ini bukan untuk diskriminatif, karena bagaimana pun, bahasa Melayu itu banyak dimengerti siapa pun di Indonesia. Hanya dialeknya yang beda," tutur Rusli Zainal.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026