
Benteng 7 Lapis Perlu Diperhatikan

Pekanbaru, (ANTARARIAU News) - Rumpun Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Rokan Hulu (RPPM-ROHUL) menuntut Pemerintah Provinsi Riau agar memperhatikan cagar budaya Benteng 7 Lapis yang kini terbengkalai.
"Momentum hari pahlawan adalah waktu yang tepat untuk melihat kembali jasa pahlawan dengan merawat peningalannya," kata Amin Syukri, mahasiswa asal Rohul.
Amin mengaku RPPM - ROHUL bergerak karena mereka menganggap Pemprov telah lalai dan abai terhadap peninggalan bersejarah yang ada di Riau.
Mahasiswa meminta Pemprov melakukan perawatan dan pemugaran Benteng Tujuh Lapis di desa Dalu-Dalu peninggalan Tuanku Tambusai yang oleh Belanda dijuluki "De Padiriesce Tijger Van Rokan" atau Harimau dari Rokan.
Benteng yang terletak di tepian sungai Batang Sosa di Desa Dalu-Dalu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau menurutnya dalam keadaan yang memprihatinkan. Kubu sebanyak tujuh lapis yang didirikan oleh Muhammad Saleh atau lebih dikenal sebagai Tuanku Tambusai pada tahun 1835 itu dikabarkan tidak pernah mampu ditembus oleh serangan Belanda.
Menurut penuturan seorang warga Rokan Hulu bernama Mustofa (30), pada masa keemasannya benteng seluas 200 meter persegi dan terbuat dari tembok tanah itu dikenal sangat kokoh. Bangunan benteng dikelilingi parit sedalam 10meter, dan sebagai pelapis terluar, ditanamlah rumpun bambu berduri (Aur Duri), yang kemudian banyak digunakan sebagai nama sebutan.
"Dahulu benteng ini sangat disegani musuh dan menjadi andalan Tuanku Tambusai untuk menahan gempuran Belanda dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat," kata Mustofa.
Keangkeran Benteng Tambusai adalah perlambang kegigihan dan potret semangat patriotisme bangsa Indonesia dimasa lalu. Ketidak pedulian pemerintah terhadap peninggalan bersejarah seperti yang terjadi pada Benteng Tujuh Lapis sangat disayangkan.
"Saya prihatin sekarang bangunannya sudah lapuk dan tersisa hanya gundukan tanah," kata Mustofa.
Mustofa bahkan menilai niatan pemerintah untuk memperhatikan bangunan bersejarah dan cagar budaya nyaris tidak ada.
"Jangankan dipugar, benteng seluas itu bahkan tidak dilengkapi dengan papan nama," lanjutnya.

