
Budayakan hidup bersih atasi DBD

Pekanbaru, (ANTARARIAU News) - Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Andra Sjafril, mengatakan, pihaknya meminta masyarakat berpartisipasi aktif menghambat penyebaran Demam Berdarah Dengue, antara lain dengan menerapkan pola hidup bersih.
"Ini penting untuk mengurangi tingginya angka penderita dan tingkat kematian akibat Demam Berdarah Degue (12) di 12 kabupaten maupun kota di Provinsi Riau," katanya kepada ANTARA di Pekanbaru, Rabu.
Hal itu dikemukakanya, mengingat dari Data pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, kasus DBD pada bulan Januari hingga Oktober di Provinsi Riau, mencapai 1228 kasus, dan korban meninggal dunia 32 orang.
Ia menambahkan, yang terpenting untuk menghindari DBD itu, hanyalah membudayakan pola hidup bersih.
Atasnama Dinas Kesehatan (Dinkes) Riau, Andra juga mengingatkan, selain membudayakn pola hidup bersih, warga juga diminta aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungannya, terutama sumber-sumber pengembangan-biaknya, seperti genangan air di sekitar rumah.
"Jadi upaya pemberantasan sarang nyamuk dengan target utama sumbernya pada genangan air di sekitar rumah, yakni melalui penerapan budaya '3 M' (menguras, menutup dan mengubur), diharapkan peningkatan penderta DBD bisa teratasi," ujarnya.
Mendekati Situsi KLB
Ditambahkan, cara ini merupakan yang terbaik untuk menekan laju penyebaran DBD dan mengurangi resiko kematian warga.
"Jadi sangat penting untuk mewaspadai demi menghindari korban-korban selanjutnya, karena di daerah Riau sendiri merupakan daerah paling rawan DBD, terlebih di daerah Pesisir Riau, dan Kota Pekanbaru," ungkapnya.
Dijelaskan, di Kota Pekanbaru ditemukan kasus DBD, yaitu mencapai 346 kasus dan mendekati situasi Kejadian Luar Biasa (KLB).
"Penyebaran DBD di perkotaan dipicu oleh padatnya penduduknya. Sejak Januari 2011 hingga sekarang, dari 1200-an kasus DBD yang ditemukan, 346 kasus di Pekanbaru," ungkapnya.
Menghadapi cuaca yang saat ini sering turun hujan, ia mengharapkan tidak ada salahnya masyarakat membersihkan genangan air di sekitar rumah.
"Ini penting, agar jentik nyamuk tidak berkembang biak," ujarnya.
Disinggung keefektifan melakukan 'foging' (pengasapan), menurutnya, itu dilakukan hanya untuk membunuh nyamuk dewasa.
"Selain itu, 'foging' juga tidak bisa dilakukan sembarangan, harus berdasarkan data, yakni, minimal harus ada tiga kasus dalam satu tempat. Kalau cuma satu kasus, kemungkinan saja itu bukan DBD," ujarnya.
Ia berulang mengingatkan, sebenarnya 'foging' itu kurang efektif dilakukan, karena yang dibunuh hanya nyamuk dewasa saja. "Itu makanya masyarakat harus bisa menjaga kebersihan lingkungan dan rumah masing-masing," katanya.
Andra juga mengimbau kepada pihak Dinkes kabupaten maupun kota di Riau, agar lebih giat lagi dalam menuntaskan DBD di Riau.
"Jadi peran Dinkes kabupaten atau kota dalam pemberantasan dan penyuluhan kepada masyarakat ini sangat penting untuk berantas DBD di Riau," ujar Andra Sjafril.
Pewarta : Nasuha
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

