
Riau Sempat Embargo Bukit Asam Menambang

Indragiri Hulu, 7/5 (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, sempat mengembargo PT Bukit Asam (Persero) Tbk., yang melakukan kegiatan penambangan batu bara di Desa Semelinang Tebing, Kecamatan Peranap, sebelum membangun pembangkit listrik di daerah itu.
"Kami sempat menyetop kegiatan Bukit Asam untuk tidak dulu mengeksploitasi batu bara karena mereka harus membangun pembangkit listrik lebih dahulu," ujar Bupati Indragiri Hulu, Mujtahid Thalib, di Indragiri Hulu, Jumat.
Menurutnya, larangan sementara hingga pembangkit listrik dibangun lebih dahulu, sebelum BUMN tersebut melakukan eksploitasi terhadap kekayaan sumber daya alam di kabupaten itu, dilakukan agar pihak perusahaan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Kondisi itu juga sejalan dengan krisis listrik yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu dengan rasio elektrifikasi sekitar 22 persen dan defisit yang dialami daerah itu yakni ketika beban puncak kebutuhan listrik mencapai 10,5 MW, sedangkan kemampuan pasokan PLN hanya 5 MW. Akibatnya, hingga kini pemadaman bergilir masih terjadi di kabupaten yang kaya akan sumber daya alam seperti batu bara, kemudian perkebunan kelapa sawit dan karet itu. Bahkan enam dari 14 kecamatan di Indragiri Hulu yang hingga kini listrik belum mengalir.
Karena itu, Pemda dan BUMN itu dalam beberapa tahun terakhir terus melakukan pembicaraan serius untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2x10 MW di Desa Semelinang Tebing, Kecamatan Peranap.
"Alhamdulillah kemarin telah dilakukan pencanangan pembangunan PLTU 2x10 MW dan diharapkan 2012 sudah bisa beroperasi dan Bukit Asam bisa melakukan kegiatan eksploitasi batu bara," jelasnya.
Ketika pencanangan pembangunan PLTU 2x10 MW oleh Wakil Gubernur Riau H Raja Mambang Mit, di Desa Semelinang Tebing yang berjarak 250 kilometer arah Selatan Kota Pekanbaru, Kamis (6/5), pihak Bukit Asam bisa mengerti dengan embargo yang dilakukan pemerintah setempat terhadap pihaknya.
"Kami bisa menerima alasan bupati, namun hari ini kami telah menginvestasikan dana internal sebesar Rp290 miliar hingga Rp300 miliar untuk membangun PLTU 2x10 MW dengan bahan bakar batu bara," ujar Direktur Utama PT Bukit Asam (Persero) Tbk, Sukrisno.
Riau menjadi provinsi keempat tempat perusahaan Bukit Asam akan memulai kegiatan eksploitasi, setelah sebelumnya hadir di Ombilin, Sumatera Barat tahun 1910, kemudian di Tanjung Enim, Sumatera Selatah tahun 1919, dan Kalimantan Timur tahun 2009.
Di Indragiri hulu, perusahaan tambang yang 65 persen kepemilikan sahammnya dikuasai pemerintah Indonesia itu telah mendapatkan izin menambang batu bara terhadap 17.100 hektar di Kecamatan Peranap dengan deposit yang tersimpan 792 juta ton dan cadangan batu bara yang tertambang sebesar 367 juta ton.

