
PBB Bergerak Ringankan Krisis Kemanusiaan Kuba yang Kian Memburuk

Washington (ANTARA) - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan terus melakukan segala upaya untuk membantu meringankan situasi kemanusiaan di Kuba yang semakin sulit, kata juru bicara PBB Stephane Dujarric, Jumat (22/5).
“Kami terus melakukan segala upaya untuk meringankan situasi yang setiap hari semakin sulit bagi rakyat Kuba,” kata Dujarric dalam konferensi pers.
Pada 29 Januari, Amerika Serikat memberlakukan tarif terhadap impor dari negara-negara yang memasok minyak ke Kuba dan mengumumkan keadaan darurat dengan alasan adanya dugaan ancaman Kuba terhadap keamanan nasional AS.
Havana mengatakan Amerika Serikat menggunakan embargo energi untuk mencekik perekonomian pulau tersebut dan memperburuk kondisi hidup warganya.
Departemen Luar Negeri AS pada 13 Mei mengumumkan bahwa Washington bersedia memberikan bantuan kemanusiaan langsung senilai 100 juta dolar AS (sekitar Rp1,76 triliun) kepada rakyat Kuba apabila Havana mengizinkannya.
Pengumuman itu muncul sehari setelah Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla menyebut tawaran tersebut sebagai “dongeng” dan “kebohongan senilai 100 juta dolar.”
Setelah itu, Rodriguez mengatakan Havana siap mempertimbangkan tawaran AS tersebut karena Kuba pada dasarnya tidak menolak bantuan yang diberikan dengan “itikad baik”.
Adapun pada Rabu (20/5), Rodriguez memberikan tanggapan terhadap pidato Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kepada rakyat Kuba yang menyatakan bahwa Presiden Donald Trump menawarkan hubungan baru secara langsung dengan rakyat Kuba, bukan melalui GAESA (Grupo de Administración Empresarial S.A) yang merupakan kekuatan ekonomi militer Kuba.
Rodriguez menegaskan bahwa meskipun Rubio sering menyinggung tawaran bantuan 100 juta dolar AS dan mengisyaratkan Kuba enggan menerimanya, Havana sebenarnya belum menolak tawaran tersebut.
Kemudian pada Kamis, Rubio mengeklaim bahwa Kuba telah menerima tawaran Washington untuk memberikan bantuan kemanusiaan senilai 100 juta dolar AS yang akan disalurkan melalui Gereja Katolik.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Pewarta : Kuntum Khaira Riswan
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

