
PBB Soroti Krisis Iklim yang Kian Cepat, Penanganan Dinilai Lamban

Tokyo (ANTARA) - Sekretaris eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim Simon Stiell pada Senin memperingatkan bahwa kemajuan dalam penanggulangan krisis iklim berjalan "terlalu lambat" dan kerusakan akibat dampak iklim terjadi "semakin cepat."
Meski mengakui adanya sejumlah pencapaian sejak disepakatinya Perjanjian Iklim Paris pada 2015, ia menekankan dalam wawancara dengan Kyodo News bahwa dunia masih belum “berada di jalur yang tepat untuk mencapai batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius yang sangat krusial.”
Baca juga: Pendanaan Iklim Global: Tantangan dan Peluang bagi Negara Berkembang
Target tersebut mengacu pada kesepakatan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri berdasarkan kesepakatan Paris.
"Jadi, kita benar-benar memiliki dua pilihan... Yang pertama adalah apakah kita memperkuat kerja sama iklim, atau apakah kita menderita," katanya.
Mengenai krisis energi yang dipicu oleh perang AS dan Israel melawan Iran, ia mengatakan bahwa subsidi pemerintah untuk bensin dan bahan bakar lainnya dapat "memperlambat" transisi dari bahan bakar fosil.
Baca juga: Perubahan iklim, salju di Puncak Jayawijaya diprediksi akan hilang 2026
Sementara itu, ketika ditanya tentang dampak penarikan diri AS dari upaya iklim internasional, Stiell mengatakan pintu tetap terbuka, seraya menegaskan bahwa "mereka pernah pergi sekali sebelumnya dan kembali," dan sektor swasta negara itu tetap aktif terlibat.
Sumber: Kyodo
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

