Logo Header Antaranews Riau

KH Mahali dorong PKJR jadi wadah lahirnya gagasan konstruktif untuk Riau

Senin, 27 April 2026 16:33 WIB
Image Print
Silahturahmi Perkumpulan Keluarga Jawa Riau (Diana/Antara)

Pekanbaru (ANTARA) - Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Keluarga Jawa se-Riau (DPP PKJR) menggelar kegiatan halalbihalal yang berlangsung hangat dan penuh kebersamaan di Hotel Grand Central Pekanbaru. Acara ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus momentum memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Riau.

Ketua Umum DPP PKJR, Letkol TNI (Purn) H. Sukiman, dalam sambutannya menegaskan bahwa PKJR hadir bukan hanya sebagai wadah bagi masyarakat bersuku Jawa, tetapi juga terbuka bagi seluruh etnis lainnya yang berada di Bumi Lancang Kuning. Ia menekankan pentingnya kebersamaan dalam membangun daerah.

Menurut Sukiman, PKJR berkomitmen untuk berkontribusi dalam kemajuan Provinsi Riau.
Mantan Bupati Rokan Hulu dua periode ini dan juga Mantan Dandim Inhil ini, mengajak seluruh elemen masyarakat Jawa di Riau untuk menjaga kerukunan serta aktif mengambil bagian dalam pembangunan daerah. Semangat tersebut dirangkum dalam tema kegiatan, “Guyub Rukun Selawase”, yang berarti kompak dan rukun selamanya.

Dalam kesempatan itu, DPP PKJR menghadirkan Ketua PWNU Riau, KH. R. Abdul Khalim Mahali, sebagai penceramah. Dalam tausyiahnya, ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dan mencerminkan tanggung jawab bersama masyarakat dalam mendukung kemajuan Riau.

Ia juga menyoroti peran PKJR sebagai wadah strategis yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga mampu memberikan gagasan konstruktif bagi pembangunan daerah dan negara. Menurutnya, organisasi seperti PKJR memiliki potensi besar untuk memperkuat persatuan bangsa.

"PKJR bahkan harus difungsikan sebagai wadah pemberi masukan-masukan
konstruktif untuk Riau dan Negara," ucapnya.

Lebih lanjut, Kyai Mahali mengulas sejarah Halalbihalal yang populer sejak masa Presiden Soekarno atas usulan KH Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU. Tradisi tersebut kala itu menjadi sarana mempererat hubungan antar tokoh bangsa pasca pemberontakan PKI, demi menjaga keutuhan Indonesia yang baru merdeka.

Ia juga mengaitkan tradisi Halalbihalal dengan sejarah Jawa, khususnya pada masa Mangkunegaran di bawah kepemimpinan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Tradisi berkumpul dan saling memaafkan setelah Idul Fitri disebut sudah menjadi bagian dari budaya sejak masa itu.

Tausyiah yang disampaikan selama sekitar 30 menit terasa ringan dan menghibur karena diselingi humor, namun tetap sarat makna. Salah satu pesan yang disampaikan adalah tentang kemuliaan perempuan yang diakui tidak hanya dalam agama, tetapi juga dalam sistem perlindungan di wadahi Komnas HAM.

Kegiatan ini turut dihadiri berbagai tokoh penting, di antaranya Wakil Bupati Rokan Hulu Syafaruddin Poti, para ketua PKJR kabupaten/kota, perwakilan paguyuban masyarakat Jawa, tokoh masyarakat, serta anggota DPRD dari kalangan keturunan Jawa.



Pewarta :
Editor: Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026