Logo Header Antaranews Riau

United Nations Development Programme: Pembersihan Reruntuhan Gaza Diperkirakan Butuh 7 Tahun

Rabu, 18 Februari 2026 12:14 WIB
Image Print
Jalur Gaza (ANTARA/Anadolu/py.)

Hamilton (ANTARA) - Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) menyatakan pembersihan reruntuhan di Gaza dengan kecepatan saat ini dapat memakan waktu hingga tujuh tahun karena sebagian besar penduduk masih hidup dalam kondisi yang sangat berbahaya.

Dalam pengarahan virtual dari Yerusalem setelah kunjungan terbarunya ke Jalur Gaza, Kepala UNDP Alexander De Croo pada Selasa (17/2) menggambarkan situasi kemanusiaan sebagai yang terburuk yang pernah ia saksikan selama bertahun-tahun bekerja di bidang pembangunan.

Baca juga: Arab Saudi Dorong Gencatan Senjata Gaza sebagai Langkah Menuju Kemerdekaan Palestina

“Ini adalah kondisi kehidupan terburuk yang pernah saya lihat, kondisi yang sangat menyakitkan untuk dijalani,” kata De Croo.

Dirinya menambahkan bahwa sebanyak 90 persen warga Gaza saat ini hidup di tengah reruntuhan, yang sangat berbahaya.

Lebih lanjutkan, ia menjelaskan bahwa upaya pemulihan UNDP berfokus pada tiga bidang utama. Yang pertama adalah pembersihan puing dan limbah padat.

“Pembersihan puing-puing, kami baru menyelesaikan sekitar 0,5 persen dari total keseluruhan,” ucapnya.

Ia menekankan perlunya peningkatan wewenang dan kapasitas guna mempercepat proses pembersihan dan daur ulang puing-puing

Prioritas kedua UNDP, lanjutnya, adalah penyediaan hunian sementara, karena 90 persen populasi tinggal di tempat yang bahkan sulit disebut sebagai tenda.

“Maksud saya, ini benar-benar tenda yang sangat, sangat sederhana,” kata dia..

UNDP sejauh ini telah membangun 500 unit hunian pemulihan dan memiliki 4.000 unit siap pakai, namun kebutuhan jauh melampaui pasokan yang ada saat ini.

“Diperlukan antara 200.000 hingga 300.000 unit untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat, bukan kehidupan yang seharusnya mereka miliki, tetapi setidaknya lebih baik dari kondisi saat ini,” tambahnya.

Ia menyebut bidang ketiga adalah menghidupkan kembali sektor swasta Gaza yang sebagian besar terhenti. Program pemulihan mencakup investasi terbatas dan skema padat karya dengan pembayaran tunai.

Baca juga: Pemerintah Gaza Tekan Komite Nasional Segera Masuk ke Wilayahnya

Untuk memperluas bantuan, De Croo mengatakan UNDP memiliki satu permintaan besar kepada otoritas Israel, yaitu memberikan akses yang lebih luas untuk bahan bangunan, unit hunian, dan dukungan bagi pelaku usaha swasta.

Ia menegaskan bahwa dugaan kekhawatiran keamanan Israel tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi akses yang lebih besar bagi UNDP, organisasi-organisasi PBB lainnya, dan lembaga swadaya internasional.

Sumber: Anadolu




Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026