
Pertamina Antisipasi Risiko Global lewat Economic Outlook 2026

Pekanbaru (ANTARA) - PT Pertamina (Persero) menggelar kegiatan Economic Outlook 2026 yang berlangsung di Ballroom Pertamina Club, Taman Patra Raya, Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat, 30 Januari 2026. Acara yang mengusung tema Building Sustainability Value Amid Volatility ini sebagai respons atas dinamika ekonomi dan energi global yangsemakin kompleks.
Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini (saat menjabat) mengatakan, forum ini penting untuk meninjau kinerja tahun 2025 sekaligus mempersiapkan strategi menghadapi tantangan 2026. Menurutnya, kondisi global saat ini ditandai oleh ketidakpastian dan volatilitas tinggi, baik dari sisi ekonomi maupun geopolitik. Situasi tersebut menuntut Pertamina untuk selalu waspada, adaptif, dan responsif terhadap perubahan yang dapat berdampak pada kinerja korporasi.
“Silakan kita menyesuaikan, untuk bisa bertahan, bahkan bertumbuh. Bertahan itu sangat mandatori, tapi kita juga harus bertumbuh. Kita bertumbuh dalam konteks bisa menjalankan (bisnis), menjaga ketahanan energi, kalau bisa melakukan swasembada energi,” terangnya.
Emma juga menyoroti posisi Indonesia yang masih menjadi net importir energi. Kondisi ini membuat Pertamina rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan dinamika pasar global, sehingga koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas operasional.
Selain itu, dibutuhkan langkah yang cepat, akurat, dan terintegrasi di seluruh lini bisnis agar Pertamina mampu merespons perubahan global secara efektif. Perubahan mentalitas kerja di lingkungan Pertamina Group juga dirasa penting, khususnya dalam hal analisis, prediksi, dan pendekatan forward-looking terhadap dinamika global.
Emma berharap Forum Economic Outlook 2026 menjadi ruang strategis untuk memperkuat kewaspadaan dan kesiapan organisasi. Di mana kegiatan ini dapat diterjemahkan menjadi action plan, mitigation plan, serta penguatan business plan, bahkan peluang bisnis baru.
Menurutnya, tantangan utama Pertamina berada pada faktor eksternal, terutama dinamika global yang harus diantisipasi dengan strategi yang tepat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap outlook ekonomi, harga komoditas, dan arah kebijakan global menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
“Melalui Economic Outlook 2026, Pertamina berharap seluruh insan perusahaan semakin siap menghadapi ketidakpastian, membangun budaya kewaspadaan, dan memperkuat langkah strategis untuk memastikan ketahanan energi serta pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Pada acara tersebut dihadiri pembicara William Simadiputra dan Radhika Rao, economist dari Bank DBS, serta Juli Budi Winantya, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia. Ketiga pembicara tersebut memiliki pandangan yang relatif seragam bahwa perekonomian dunia sedang dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang meningkat.
Dalam kondisi tersebut, William Simadiputra menyampaikan bahwa koordinasi kebijakan fiskal dan moneter Indonesia harus pro-pertumbuhan, dengan menekankan pentingnya independensi lembaga.
SVP Treasury & Strategic Finance Pertamina, Bagus Agung Rahadiansyah (saat menjabat) menambahkan, Pertamina Economic Outlook bertujuan memberikan refresh update atas perkembangan perekonomian global dan domestik. Dengan tujuan agar para Perwira Pertamina memiliki informasi, update, dan pemahaman yang sama tentang potensi dampak dari geopolitik, perubahan geoekonomi, konstelasi energi global, serta dampaknya terhadap Pertamina seperti apa.
“Sehingga pada saat kita menurunkan strategi bisnis, dalam proses implementasi dan eksekusi bisnis, kita sudah memasukkan faktor-faktor yang kita nilai dapat membahayakan atau memberikan risiko terjadinya penurunan performa, sekaligus menyiapkan mitigasinya. Jadi tidak hanya sekadar mengidentifikasi risiko, tetapi juga mampu memastikan bahwa bisnis tetap berjalan dengan mitigasi yang terstruktur,” tutup Bagus.
Pewarta : Darto
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

