Logo Header Antaranews Riau

Merawat jejak tenun Melayu dari Pulau Payung

Jumat, 23 Januari 2026 11:43 WIB
Image Print
Rumah Tenun Pulau Payung: Menggerakkan Ekonomi Warga Lewat Pemberdayaan Potensi Lokal Pelalawan (ANTARA/HO-RAPP)

Pekanbaru (ANTARA) - Di tengah arus modernisasi, selembar kain tenun tetap menyimpan cerita panjang tentang identitas dan nilai-nilai masyarakat Melayu. Bagi warga Pulau Payung, Kabupaten Pelalawan, tenun bukan sekadar produk kerajinan, melainkan warisan yang terus dijaga agar tidak lekang oleh waktu.

Upaya menjaga tradisi itu terlihat dari aktivitas Kelompok Usaha Rumah Tenun Pulau Payung yang berdiri sejak 2024. Di sebuah ruang sederhana, bunyi alat tenun bukan mesin (ATBM) berpadu dengan semangat para perajin yang tekun merajut benang menjadi karya bermakna.

Kolaborasi antara masyarakat dan sektor swasta menjadi salah satu kunci dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus mendorong kemandirian ekonomi lokal, seperti yang terlihat pada pengembangan Rumah Tenun Pulau Payung di Kabupaten Pelalawan.

Melalui program Community Development (CD), PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) memberikan dukungan berupa pelatihan, pendampingan, hingga penyediaan sarana produksi bagi kelompok perajin tenun.

Head of CD RAPP, Ferdinand Leohansen Simatupang, mengatakan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat jika didukung secara berkelanjutan.

Ketua kelompok, Yulhendra yang akrab disapa Ira, menjadi motor penggerak di balik keberlanjutan usaha tersebut. Ia meninggalkan profesinya sebagai guru untuk fokus mengembangkan rumah tenun bersama masyarakat sekitar.

“Kelompok Usaha Rumah Tenun Pulau Payung ini berawal dari niatan saya untuk melestarikan warisan budaya tenun Melayu yang mulai jarang ditemui, sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar,” kata Ira.

Perjalanan kelompok ini tidak selalu mudah. Pada awalnya, sebagian anggota belum memiliki keterampilan menenun. Namun melalui pelatihan dan pendampingan, kemampuan mereka terus berkembang.

Kini, setiap anggota mampu menghasilkan tujuh hingga delapan lembar kain tenun setiap bulan, dengan berbagai motif khas Melayu seperti pucuk rebung dan tampuk manggis yang sarat filosofi.

“Setiap motif Melayu itu memiliki ceritanya tersendiri. Itu yang membuat tenun ini tidak hanya indah, tetapi juga bermakna,” ujar Ira.

Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari kain untuk atasan seperti blazer dan blouse, kain samping dengan motif padat, hingga selendang sebagai pelengkap busana.

Di balik setiap helai kain, tersimpan harapan bahwa tradisi tenun Melayu akan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat setempat.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026