Iran Desak PBB Kecam AS atas Dugaan Hasutan Kekerasan

id Iran,PBB

Iran Desak PBB Kecam AS atas Dugaan Hasutan Kekerasan

Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. (ANTARA/Anadolu/as.)

PBB (ANTARA) - Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amir Saeid Iravani pada Selasa (13/1) meminta Sekretaris Jenderal (Sekjen) dan Dewan Keamanan PBB mengecam Amerika Serikat (AS) karena menghasut kekerasan serta mengancam akan menggunakan kekuatan terhadap negaranya.

Dalam surat yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Duta besar Somalia untuk PBB Abukar Dahir Osman, yang menjabat sebagai presiden bergilir Dewan Keamanan untuk Januari, Iravani menuduh Presiden AS Donald Trump secara terbuka menghasut kekerasan di Iran, dengan mengutip unggahan Trump di platform media sosial Truth Social.

Baca juga: Polisi Nyatakan Iran Aman Terkendali Usai Kerusuhan Massal

Kedutaan virtual AS di Iran pada Selasa (13/1) mendesak warga AS untuk meninggalkan negara tersebut.

"Pernyataan sembrono ini secara eksplisit mendorong destabilisasi politik, menghasut dan mengajak kekerasan, serta mengancam kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan nasional Republik Islam Iran," kata Iravani dalam surat tersebut.

Ia juga menyerukan kepada Sekjen dan Dewan Keamanan PBB "untuk memenuhi tanggung jawab mereka berdasarkan Piagam PBB dengan secara tegas mengutuk semua bentuk hasutan kekerasan, ancaman penggunaan kekerasan, dan campur tangan" Amerika Serikat dalam urusan internal Iran.

Baca juga: Trump Mengultimatum Dunia: Negara Mitra Iran Terancam Tarif 25 Persen

Selain itu, Iran juga mendesak semua negara anggota PBB untuk menahan diri dari pernyataan atau tindakan provokatif dan tidak bertanggung jawab yang melanggar Piagam PBB, termasuk prinsip-prinsip kedaulatan, integritas wilayah, dan kemerdekaan politik Iran, demikian isi surat tersebut.

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.