Pekanbaru, (ANTARA) - Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi (Satgas PHKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menggandeng Universitas Riau menggelar Seminar Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Selasa.
Seminar ini mengangkat tema Integrasi Ketahanan Energi, Ekonomi Sirkular dan Kesejahteraan Rakyat. Sekretaris Sekretariat Satgas PHKE, Dani Setiawan di Ruang Teater Pakning, Kampus UNRI mengatakan kegiatan seminar kedelapan di Indonesia ini berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Sosial Politik UNRI.
Dani menyampaikan satgas ini dibentuk melalui Keputusan Presiden nomor 1 tahun 2025 tentang Pembentukan Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional. Kepres memberikan tugas kepada satgas untuk mengusulkan proyek-proyek strategis terkait dengan hilirasasi dan ketahanan energi yang lebih besar.
"Sejak Bulan Mei kami sudah menyampaikan kepada Presiden ada 18 proyek hilirisasi dan ketahanan energi nasional senilai Rp600 triliun yang sekarang prosesnya sedang dilakukan tahap 'feasibility studies' oleh PT Danantara," katanya.
Menurutnya presiden memerintahkan untuk segera dipercepat proses pengajuan 18 proyek hilirisasi dan ketahanan energi tersebut. Salah satunya mengusulkan untuk membangun industri pengolahan kelapa dan usulan lokasinya ada di provinsi Riau.
"Karena itu kami penting sekali untuk bisa berdiskusi mendapatkan input masukan dari civitas akademika di Riau terutama di Universitas Riau tentang rencana dan masukan strategis untuk mendorong hilirisasi pertanian dan perkebunan," ujarnya.
Pada tempat lain juga ada proyek hilirisasi mineral dan batubara setelah dimulai dengan nikel zaman Presiden Joko Widodo. Oleh karena itu lanjutnya perlu dukungan pelaku usaha masyarakat sipil agar agenda strategis ini bisa dikawal bersama-sama.
"Kami yakin sekali bahwa agenda ini sangat penting dan dimaksudkan menyiapkan untuk membawa Indonesia menjadi semakin maju mengolah sumber daya dan komunitas sumber daya alam kita agar memiliki nilai tambah yang lebih besar. Juga sangat penting bagaimana membangun industri-industri lainnya untuk menyerap lapangan kerja yang lebih luas dan lebih masif bagi seluruh masyarakat Indonesia dan tentu saja dikelola dan dilakukan secara berkelanjutan," imbuhnya.
Dalam seminar ini menjadi narasumber
Tim Ahli Anggota Pelaksana Satgas PHKE, M. Kholid Syeirazi, Guru Besar Sosiologi FISIP UNRI, Prof. Dr. Yusmar Yusuf, Koordinator Wahana Lingkungan Hidup Riau, Ahlul Fadli, dan Bupati Inderagiri Hilir, Herman.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Riau, Prof. Hermandra yang membuka kegiatan ini berharap bisa seminar ini diaktualisasikan di kehidupan nyata yakni memberikan dampak positif terhadap bangsa dan negara.
"Seperti tema yang telah kita tentukan yakni mengintegrasikan ketahanan energi. Kalau kami di kampus kita harus mencari apa sebenarnya definisi mengintegrasi itu bagaimana strateginya kita memanfaatkan berbagai sumber energi sumber energi," ujarnya.
Dekan FISIP UNRI Dr. Meyzi Heriyanto menambahkan isu hilirisasi, ketahanan energi, ekonomi sirkular dan kesra tak bisa dipisahkan. Hal tersebut merupakan satu kesatuan yang menentukan pembangunan suatu daerah.
Hilirasasi unggulan di Riau yakni kelapa sawit, kelapa dan karet memberi peluang bukan hanya sumber pendapatan regional juga sebagai jalan kemandirian energi nasional. Perkembangan bioenergi membuat Riau memiliki kesempatan sebagai champion baru dalam transisi energi hijau.
"Sehingga kita tak hanya ekspor bahan mentah tapi perlu hilirisasi. Kami kira FISIP UNRI memiliki kontribusi nyata, tak hanya sekedar wacana tapi ditindak lanjuti melalui riset pengabdian yang intinya UNRI menjadi kampus yang berdampak," ungkapnya.
