Jakarta (ANTARA) - Berdasarkan analisis dari mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menyatakan bahwa nilai tukar rupiah memiliki peluang untuk menguat setelah hasil survei kepercayaan konsumen Amerika Serikat (AS) menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang mengalami pelemahan akibat turunnya survei kepercayaan konsumen AS yang lebih rendah dari ekspektasi," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Namun, di sisi lain, pemangkasan peringkat saham Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia diperkirakan dapat menjadi beban bagi nilai tukar rupiah ke depan.
"Penurunan peringkat saham ini disebabkan oleh prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia serta valuasi perusahaan dari sisi pendapatan," jelas Lukman.
Pada awal perdagangan hari Rabu di Jakarta, rupiah tercatat menguat sebesar 24 poin atau 0,15 persen ke level Rp16.347 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp16.371 per dolar AS.
Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen AS tercatat menurun menjadi 98,3 dari 102,5, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebesar 105,3. Lukman menilai penurunan ini dipicu oleh sentimen kebijakan tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump serta pemutusan hubungan kerja terhadap sejumlah pegawai pemerintah AS.
Pemerintahan Trump mengumumkan rencana untuk memberhentikan dua ribu pegawai Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) dan menempatkan hampir seluruh staf lainnya dalam status cuti administratif.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp16.250-Rp16.350 per dolar AS.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah menguat seiring survei kepercayaan konsumen AS melemah