
BPJS Kesehatan Ajak Perempuan Agar Rajin "Papsmear"

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Kepala Divre II BPJS Kesehatan Benjamin Saut PS meminta Dinas Perberdayaan Perempuan Provinsi Jambi, Sumbar, Riau dan Kepulauan Riau, mengajak perempuan melakukan pengujian medis ("Papsmear").
"Papsmear berguna untuk mendeteksi secara dini ada tidaknya gangguan pada leher rahim (kanker serviks)," katanya dalam keterangannya kepada wartawan di Pekanbaru, Senin.
Ia mengatakan bahwa papsmear harus diusahakan sebelum kanker serviks menyerang dalam skala stadium lanjut karena tidak lagi bisa diobati berkemungkinan besar mengakibatkan kematian.
Untuk kegiatan ini BPJS Kesehatan bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia, antara lain di Sumbar, untuk lebih menggencarkan kegiatan papsmear itu.
Benjamin Saut menyebutkan bahwa pemeriksaan papsmear merupakan bagian dari Program BPJS Kesehatan dalam memberikan pelayanan bagi kaum ibu yang sudah menjadi peserta.
Menurut Benjamin, kegiatan ini penting digencarkan mengingat kanker serviks juga kanker payudara kini banyak menyerang kaum perempuan sementara itu upaya pemeriksaan sering terlambat sehingga ketika masuk pada stadium tinggi maka penyakit tersebut makin sulit disembuhkan.
"Untuk pemeriksaan untuk jenis penyakit kanker serviks ini mudah, bagi kaum perempuan yang telah memiliki kartu peserta BPJS Kesehatan cukup melakukan pendaftaran di kantor BPJS Kesehatan Cabang terdekat, dan selanjutnya mereka akan mendapatkan selembar rujukan untuk mendapatkan pelayaan papsmear pada rumah sakirt yang ditunjuk bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Ia mengatakan kasus kanker serviks dan kanker payudara mulai banyak terdeteksi setelah Dinas Pemberdayaan Perempuan pada eberapa provinsi mengedarkan sejumlah "questioner" yang tercatat mendapatkan resiko tertinggi terpapar pada penyakit tersebut, katanya.
Oleh karena itu, katanya lagi, kegiatan ini terus digencarkan sebab upaya mencegah akan lebih baik ketimbang mengobati pada saat penyakit tersebut sudah sulit disembuhkan.
Sebelumnya, dokter spesialis kandungan dari RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, Provinsi Riau, dr Jhon Madi SpOG (K) mengatakan papsmear harus diusahakan sebelum kanker serviks menyerang dalam skala stadium lanjut karena tidak lagi bisa diobati berkemungkinan besar mengakibatkan kematian.
Menurut Jhon, deteksi dini ini diperlukan karena penyakit kanker serviks tercatat sebagai jenis penyakit pembunuh nomor satu bagi perempuan di Indonesia.
Ia mengatakan berdasarkan data Depkes RI bahwa selama setahun tercatat sebanyak 8.000 wanita meninggal dunia akibat kanker serviks (kanker mulut rahim) atau satu hari sebanyak 24 perempuan meninggal atau dalam satu menit seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks.
"Kasus kematian ini muncul lebih akibat terlambatnya pemeriksaan dini bagi perempuan padahal serangan kanker serviks berasal dari virus HPV (Human Papilloma Virus) ini akan muncul dalam jangka waktu panjang," katanya.
Kanker tidak akan bisa terjadi secara tiba-tiba, namun demikian kata Jhon, bisa muncul pada dua atau tiga tahun kemudian dengan gejala adanya tanda-tanda munculnya keputihan.
Sedangkan gejalanya, kata Jhon, antara lain perdarahan pada masa haid, munculnya darah pada hubungan seksual, mengeluarkan aroma busuk karena adanya sel yang mati, dan nyeri saat hubungan seksual.
"Kalau pada tingkat stadium tiga dan empat maka gejala akan makin parah, yakni nyeri pada saat buang air kecil, neyeri dan kencing darah, bengkak di kaki, patah tulang karena virus HPV itu bisa menyebar ke tulang dan paru-paru hingga usus," katanya.
Pengobatan dalam stadium tiga dan empat ini hanya bisa dilakukan dengan cara pembedahan, radiasi, dan penyinaran serta kemoterapi.
Namun demikian, katanya, selain melakukan papsmear sekali dalam setahun, maka perempuan sejak usia 15 tahun diberi vaksin HPV itu.
"Infeksi virus HPV adalah sebagai faktor resiko utama penyebab terjadinya kanker serviks. HPV adalah kumpulan lebih dari 100 virus yang berhubungan, yang dapat menginfeksi sel-sel pada permukaan kulit, ditularkan melalui kontak kulit seperti vaginal, anal, atau oral seks," katanya.
Pewarta : Frislidia
Editor:
Frislidia
COPYRIGHT © ANTARA 2026

