Logo Header Antaranews Riau

Hadi Tekuni Ternak Nafkahi Keluarga

Kamis, 10 April 2014 19:42 WIB
Image Print

Bangkinang, (Antarariau.com) - Lepas sholat subuh, Hadi Santoso sudah mondar mandir di pekarangan rumahnya di kawasan jalan Anggrek 1 Desa Sari Galuh Kecamatan Tapung. Sebentar di kandang kambing, persis di belakang rumah. Ada tiga kandang di sana yang dijejali kambing sekitar 25 ekor.

Kambing ras Etawa Etawa 3 ekor, kambing Bur 1 ekor, sisanya ras Jawa Randu dan Kambing Kacang. Kambing mungil tapi padat daging dan tahan penyakit. “Dari semua kambing itu, jantan dan anakan masing-masing 4 ekor, sisanya indukan,” cerita lelaki 44 tahun ini, saat masih berada di kandang kambing itu, Kamis (10/4).

Habis dari sana, dia ke kandang unggas yang ada di dekat bagian dapur rumah. Tak hanya ayam ada di situ. Tapi juga itik, kalkun dan bebek. Dekat kandang kambing itu ada pula kandang kelinci yang dibawahnya terhampar kolam ikan patin. Beres dari kandang-kandang itu, ayah tiga anak ini beranjak ke bagian sisi kiri depan rumahnya. Di sana sudah ada pula tanaman kacang panjang, timun dan sayuran lain.

Apa yang ada di pekarangan seluas setengah hektar itu, diurusi sendiri oleh petugas lapangan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Kampar ini. Termasuk mengurusi 10 ekor sapi dan puluhan batang pohon coklat yang tumpang sari di antara jejeran pohon kelapa sawit di belakang rumah. “Saya ingin tunjukkan kepada warga sekitar, bahwa sesibuk apapun, saya masih bisa mengurusi hal-hal bermanfaat di pekarangan saya. Saya bikin tiap jengkal tanah di sini bermanfaat,” terang Hadi.

Biar tanaman tadi tumbuh subur, Hadi tak perlu memikirkan duit untuk membeli pupuk. Sebab kotoran dari kandang kambing tadi, sudah lebih cukup. Saban hari, kambing peliharaan Hadi bisa menghasilkan 10 kilogram kotoran padat. Belum lagi urine yang 45 liter per hari. “Kalau diduitkan, saya bisa menghasilkan Rp 45 ribu per hari. Itupun kalau dirata-ratakan Rp 1000 per kilogram dan per liter,” katanya.

Kualitas kotoran dan urine yang dihasilkan oleh kambing milik Hadi boleh dibilang lebih baik dari urine dan kotoran ternak biasa. Sebab pakan yang diberikan oleh Hadi ke kambing itu tak melulu hijauan. Tapi ada 60 persen pakan tambahan yang bersumber dari fermentasi debok (batang) pisang.

Untuk membikin 100 kilogram fermentasi debok pisang itu, hadi butuh sekitar lima batang batang pisang yang masing-masing berukuran 1,5 meter. Dedak 3 kilogram, ampas tahu 15 kg, garam dapur yodium 1/4 kilogram, Mikroba Suplemen Organik Cair (SOC) 60 mililiter, air 5 liter dan dua sendok makan gula. Untuk ini semua, Hadi musti merogoh kocek Rp 31 ribu. “Gula itu berfungsi untuk menghidupan kembali mikroba yang ada di SOC itu,” terang Hadi.

Proses fermentasi kata Hadi paling cepat 2 jam. “Nah, yang 100 kilogram tadi bisa untuk jatah makan dua hari, kambing sebanyak itu. Alhamdulillah, selama hampir dua bulan saya kasi fermentasi debok itu, kulit kambing jadi lebih halus. Termasuk pertumbuhannya. Anakan yang baru berumur 3 bulan saja, saya sudah bisa jual Rp 1 juta. Sebelum saya kasi fermentasi debok itu, anakan umur tiga bulan nggak akan bisa semahal itu” ujar Hadi.

Fermentasi debok pisang itu kata Hadi paling cocok untuk penggemukan. “Dalam 10 hari, berat badan kambing bisa naik 2 kilogram. Yang paling cocok kambing etawa dan domba ekor besar,” katanya. “Saya memang belum coba untuk penggemukan. Tapi di Gersik Jawa Tengah, yang semacam itu sudah lama dilakukan oleh peternak. Saya mengadopsi fermentasi debok pisang ini dari sana,” Hadi buka-bukaan.

Meski baru hampir dua bulan, fermentasi debok pisang yang dibikin Hadi sudah terdengar hingga ke Pekanbaru. Lantaran itu pula, anak kuliahan sudah sering menjambangi kandang kecil tempat Hadi membikin fermentasi debok pisang itu. “Ada yang dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, ada pula dari Universitas Riau,” kata alumni Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Karya Nyata Kubang Jaya ini.

Para tetangga desa juga sudah mulai tertarik membikin usaha seperti yang dilakukan oleh Hadi. “Di Anggrek 1 ini saja sudah empat orang yang ikutan,” terang Hadi. “Saya ingin lebih banyak lagi warga yang ikut. Banyak nilai plus yang kita dapat dari usaha semacam ini. Dari pada diam bengong. Lebih baik kita manfaatkan lahan yang ada,” tambahnya.

Tapi harapan Hadi tak akan cepat bisa terwujud. Sebab kebiasaan petani sawit untuk hidup santai, sudah mendarah daging. “Ke kaplingan sawit hanya sekali seminggu. Berarti banyak waktu luang. Tapi lantaran mereka merasa penghasilan dari sawit sudah cukup, ya santai lah,” katanya.

Bisa membikin fermentasi debok pisang, Hadi kemudian membikin pakan dari pelepah pohon kelapa sawit. Adonannya nyaris sama dengan adonan debok pisang. Pakai mikroba, dedak dan ampas tahu. Hanya saja, hasil fermentasi pelepah pohon kelapa sawit baru bisa dipakai setelah dua hari difermentasikan. “Saya butuh mesin pelumat yang lebih halus. Sebab pakai mesin yang sekarang, masih ada dalam bentuk lidi sepanjang 2 sentimeter. Satu-satunya jalan ya diayak,” katanya.

Pelepah pohon kelapa sawit itu kata Hadi juga bisa dipakai untuk campuran kompos. “Pelepah kering bisa jadi pengganti sekam,” ujarnya.

Mendengar kegigihan Hadi, Bupati Kampar Jefry Noer mengaku bangga. “Dia sudah muncul menjadi alumnus P4S yang sebenarnya. Kretaif dan tak mau mensia-siakan waktu yang ada. Tak hanya bisa menghasilkan duit. Dia juga bisa member contoh kepada masyarakat sekitar,” ujar Jefry.

Lantaran apa yang dibikin oleh Hadi adalah usaha ekonomi, Jefry berharap supaya apapun usaha yang dilakukan itu bisa menghasilkan hasil yang maksimal. “Di peternakan kambing misalnya. Harus jelas modal dan laba yang dihasilkan berapa,” ujarnya. (Adv)