
Luas PTB IBBU Kampar 142 Hektare

Bangkinang, (antarariau.com) - Bupati Kampar Jefry Noer mengatakan bahwa luas lahan Pusat Teknologi Produksi Induk Benih Bibit Unggul (PTP-IBBU) adalah 142 Hektar.
"Pemkab Kampar sudah membikin disain sekolah wira usaha di atas lahan seluas 142 hektar. Selain sekolah level SD hingga SMA, di sana juga bakal ada universitas, laboratorium, balai diklat, outbound, kolam pancing dan tempat ibadah," kata Jefry Noer.
Lokasi Induk Benih Bibit Unggul (IBBU), budidaya perikanan, perkebunan, peternakan dan pertanian juga ada. Dari lahan-lahan inilah kelak para siswa bisa menghasilkan duit.
Cerita JN, Konsep PTP-IBBU hasil kerjasama Pemkab Kampar, BPPT dan Ciputra ini bukan konsep kekinian. Tapi konsep Kampar ke depan. “Kita musti bisa mengembalikan kejayaan yang pernah ada. Jadi PTP-IBBU ini jangan kita bikin lokalan. Tapi go internasional. Komplek ini musti terkenal hingga ke mancanegara dan bisa menjadi objek studi banding,” JN berharap.
Kelak saat siswa yang sekolah di sini sudah tamat SMA, maka mereka bisa melanjutkan pendidikan ke universitas yang kelak dibangun di komplek itu. “Yang bakal menimba ilmu di sini kelak bisa mencapai 20 ribuan orang. Lantaran itu saya berharap semua yang terkait dengan program ini musti bisa bahu membahu mewujudkan kawasan ini hingga muncul menjadi kawasan pendidikan terbaik di Riau,” pinta JN.
Satu hal yang diingatkan JN, bahwa optimisme kalau kawasan ini akan segera terwujud, musti ada. “Jangan pernah pesimis dengan apa yang akan dilakukan. Sebab di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Memang, bisa jadi prosesnya berlangsung lama. Tapi minimal kita sudah punya mimpi yang musti kita wujudkan,” katanya.
Keinginan JN untuk mewujudkan kawasan tadi sebenarnya tak lepas dari program lima pilar yang kini sedang dia jalankan. Menjadikan masyarakat Kampar mandiri dalam lingkaran ekonomi yang mumpuni adalah muaranya.
Selain itu, JN sebenarnya kecewa dengan Sekolah Unggulan Terpadu (SUT) yang pernah berjalan di kawasan kantor bupati lama. Sebab konsep sekolah itu lari dari tujuan utama. “Itu bukan SUT namanya. SUT itu kan musti punya lokasi praktek. Pola belajarnya musti 70:30,” ujarnya.

