
Terminal Bayangan Gerogoti PAD

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Problem eksistensi terminal bayangan juga terjadi di Kota Pekanbaru. Letak terminal resmi yang jauh jadi pemicu munculnya terminal bayangan.
Keberadaan terminal bayangan di sejumlah lokasi di Pekanbaru, Riau, dapat mengurangi pendapatan daerah dari restribusi sehingga pengemudi kendaraan umum seperti bus atau angkutan antarkota enggan masuk terminal resmi Payung Sekaki.
Kepala Dinas Perhubungan Pemkot Pekanbaru, Dedi Gusriadi, di Pekanbaru, dihubungi Kamis, mengatakan, pihaknya berupaya menertibkan keberadaan terminal bayangan, tapi pengemudi lebih suka menaikkan dan menurunkan penumpang di luar terminal resmi.
"Untuk meningkatkan pendapatan dari restribusi kendaraan umum, maka upaya yang dilakukan agar bus dan mobil travel harus masuk Terminal Payung Sekaki," katanya.
Sejumlah terminal bayangan berada di Kota Pekanbaru diantaranya di jalan HR Soebrantas, Marpoyan Damai, jalan Harapan Raya, Palas, Rumbai Pesisir, jalan Yos Sudarso, Rumbai Pesisir, dan di Pasir Putih.
Namun keberadaan terminal bayangan itu pada umumnya untuk menaikkan dan menurunkan penumpang antarkota dan antarprovinsi.
Sedangkan Terminal Payung Sekaki hanya berfungsi untuk bus Transmetro
Pekanbaru dan sebagian travel resmi jurusan Bukittinggi, Payakumbuh, Padang, Sumbar dan Dumai.
Sementara itu, petugas restribusi di Terminal Payung Sekaki lebih banyak santai ketimbang menjalani tugas karena kendaraan umum yang masuk untuk membayar
restribusi relatif sedikit.
Beberapa waktu lalu, aparat Dinas Perhubungan setempat melakukan operasi penertiban terhadap kendaraan umum agar masuk ke terminal resmi, akhirnya pengemudi patuh dan mayoritas kendaraan menaikkan dan menurunkan penumpang di Payung Sekaki.
Belakangan ini setelah operasi penertiban berhenti, maka pengemudi kembali menaikkan dan menurunkan penumpang di terminal bayangan.
Alasan pengemudi enggan masuk terminal resmi karena letaknya jauh berada di pinggir kota maka memerlukan bahan bakar lebih untuk sampai ke lokasi.
Selain itu, belum tentu juga ada penumpang yang bersedia naik atau turun di terminal resmi itu, maka hal tersebut dianggap sia-sia dan menghabiskan bahan bakar.
Pewarta : Adityawarman
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

