Logo Header Antaranews Riau

Waspadai Politisasi Daging Sapi

Kamis, 29 November 2012 09:40 WIB
Image Print

Pekanbaru (antarariau.com) - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Riau menyarankan, agar pemerintah dan masyarakat mewaspadai potensi adanya politisasi terhadap daging sapi yang kemungkinan mengarah pada kepentingan asing.

"Selama ini, yang namanya harga daging sapi di sejumlah wilayah termasuk Riau tak pernah tidak naik. Distribusinya selalu tersendat," kata Direktur Eksekutif YLKI Riau, Sukardi Ali Zahar, di Pekanbaru, Kamis.

Menurutnya pula, selama ini bahkan pemerintah di daerah tidak pernah mengetahui secara pasti di mana letak kesalahan pada distribusi sapi yang didatangkan.

"Bahkan saya pun tak pernah tahu apakan kebutuhan sapi di Riau ini sepenuhnya ditutupi oleh sapi dalam negeri atau justru ada sapi yang berasal dari luar negeri," katanya.

Sukardi menyarankan, agar pemrintah dan masyarakat mewaspadai setiap terjadinya lonjakan harga daging di pasaran.

"Karena bisa jadi hal ini disebabkan adanya upaya politisasi agar bagaimana daging impor dapat menambah kuotanya ke Indonesia atau Riau," katanya.

Dinas Peternakan Pemerintah Provinsi Riau, sebelumnya sempat menegaskan bahwa, wilayahnya sampai sejauh ini belum membutuhkan impor sapi dari negara manapun mengingat pasokan dalam negeri masih cukup lancar.

"Sejauh ini stok daging di Riau masih aman-aman saja dan belum ada kabar terkait kelangkaannya. Namun upaya koordinasi dengan berbagai daerah baik kota maupun kabupaten akan tetap dilakukan," kata Kepala Dinas Peternakan Riau, Patrianov.

Terkait potensi kenaikan harga daging sapi di pasar, menurutnya, bukan disebabkan minimnya stok di negara ini, namun lebih disebabkan jalur distribusi yang kerap terhambat atau bahkan penyalurannya yang tidak merata.

"Jadi tidak perlu Riau mengimpor sapi dari negara manapun. Kalau sempat dilakukan impor sapi, berarti sama halnya daerah atau negara ini tidak mau mandiri," katanya.

Harga daging sapi di Pekanbaru, Riau, pada pekan lalu juga sempat mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yakni dari Rp75.000 menjadi sekitar Rp100.000 per kilogram.

Hal itu juga menyebabkan kalangan pedagang pengecer daging segar merugi karena minim pembeli hingga terpaksa mengkonsumi daging yang dijualnya sendiri. ***2*** (T.KR-FZR)



Pewarta :
Editor: Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026