Perjalanan wisata menuju desa Suku Talang Mamak

id Masyarakat Suku Talang Mamak punya tradisi sendiro

Perjalanan wisata menuju desa Suku Talang Mamak

Rombongan bersiap menyusuri Sungai untuk menunju Desa Talang Mamak. (ANTARA/Asripilyadi)

Rengat (ANTARA) - Masyarakat yang ramah, santun, ternyata peduli dengan seni budaya lokal yang bernilai tinggi. Sepanjang 40 KM dari pusat Kota Rengat, 17 KM dari Kota Batang Gansal, 2 jam perjalanan naik speed boad baru tiba di sebuah desa terpencil hanya ada puluhan rumah sederhana berdiri kokoh.

Itulah Desa Bengayawan, unik, indah dan menarik. Tak heran para wisatawan sekali datang ingin kembali datang menggali sejarah, publikasi serta menyapa masyarakat yang melestarikan seni budaya lokal.

Kalau di Banten ada Suku Baduy, diJambi ada Suku Kubu, maka di Indragiri Hulu ada Suku Talang Mamak dengan terkenal cara perobatan tradisional, silat, seni tari penyambutan yang unik nan memukau. Tak heran ratusan wisatawan mengabadikan perjalan wisata setelah berhasil mengunjungi desa kecil terpencil di paling akhir ujung sungai Batang Gansal.

Sabtu 25 September 2021, kami dengan tiga kendaraan berisi 25 orang dalam satu rombongan kecil menuju desa terpencil itu. Sekira pukul 08.00 WIB, lepas berkumpul di Rengat Barat menuju desa wisata itu.

Satu komando, dalam sebuah mobil putih dengan kecepatan sedang melaju menempuh perjalanan 3 jam menuju Kota Kecamatan Batang Gansal. Kota kecil ujung Indragiri Hulu bagian selatan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Indragiri Hulu Jawalter S mengatakan juga mendampingi rombongan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menuju desa wisata.

"Mereka ingin menggali, mempromosikan objek wisata, seni budaya lokal Indragiri Hulu," ujarnya dalam kendaraan.

Momenini, bisa juga dimanfaatkan untuk publikasi bagi media nasional seperti, agar dikenal secara nasional yang dapat menyapa dunia dengan keramahan Suku Talang Mamak.

Dampaknya, bukan saja dapat membantu perekonomian masyarakat tetapi wisata lokal Indragiri Hulu dapat menyapa dunia dengan cepat.

Sebelumnya, Bupati Indragiri Hulu Rezita Meylani Yopi menyambut baik program LDII, yang akan mengangkat potensi wisata dan seni budaya aset daerah Inhu.

Sembari berdiskusi kecil, dalam perjalan sepakat mengungkap fakta sejarah. Tak terasa memang, sekira pukul 09.30 WIB kendaraan membawa kami tiba di persimpangan tiga di kota Kecamatan Batang Gansal.
Berkunjung ke desa wisata SukuTalang Mamak. (ANTARA/Asripilyadi)


Istirahat sejenak, hanya berkisar 15 menit sembari menunggu rombongan kecil yang masih dalam perjalanan. Sambil berbincang santai dengan Camat Bantang Gansal yang didampingi Camat Batang Cinaku, rombongan pun tiba.

Akhirnya, rombongan usai menempuh 17 KM perjalanan menuju sebuah desa terpencil, melalui lintasan jalan yang masih belum beraspal. Kiri kanan rumah masyarakat dan pepohonan sawit dan karet yang tinggi menjulang.

Berlayar menuju Kampung Kecil

Enam speedboad sebagai kendaraan rombongan melaju santai, karena kondisi air dengan arus yang kuat, kadang badan air yang sedikit dangkal membuat perahu tidak bisa melaju kencang. Sesekali speedboad terhenti, mencari sudut sungai yang aman. Bagi wisatawan pemula, ini mungkin sedikit uji nyali.

"Ini sangat mengasyikkan, menjadikan momenyang bersejarah," kata salah satu pemandu, Hendri.

Tamu atau wisatawan harus mempersiapkan energi, keberanian untuk sampai ke desa wisata. Karena speedboat akan melaju membawa rombongan melawan arus sungai.

Rombongan tiba ke desa wisata Suku Talang Mamak.


Walaupun perjalanan membutuhkan energi ekstra karena kondisi jalan yang sempit, banyak lobang, perjalanan berakhir di sebuah Desa Rantau Langsat, pintu masuk desa wisata ujung Indragiri Hulu.

Tiba di lokasi, terlihat puluhan perahu bermesin sederhana siap menunggu dan mengantar rombongan dengan beberapa orang pemandu wisata.

Kami pun berangkat, rombongan menaiki perahu kecil bermuatan 7 orang, menuju desa Bengayawan. Satu persatu perahu berlayar melawan arus sungai Gansal yang terlihat tidak terlalu dalam tetapi arus yang kuat.

Dalam perjalanan, rombongan tidak menyia - nyiakan kesempatan yakni kebiasaan berselfi, mendokumentasi momen yang indah di atas perahu yang panjang berkisar 5 meter itu.

Kami pun, tak menyia nyiakan waktu menatap langit dibalik pepohonan dan daun hijau sepanjang perjalanan. Bahkan terlihat ada tumbuhan yang sudah berumur hingga ratusan tahun kokoh tegak berdiri di tepi Sungai Gansal.

Di atas speedboat, Camat Batang Gansal Elinariyon mengatakan, setiap wisatawan yang hadir di tengah masyarakat Suku Talang Mamak akan merasa senang, karena keramahan mereka.

"Mereka ramah, santun, terbuka menerima tamu," ujarnya.

Namun, butuh perjuangan untuk bisa sampai ke tengah Desa Bengayawan itu. Bahkan, potensi wisata Indragiri Hulu ini perlu di tingkatkan sehingga optimal dikenal secara luas.

Kami terlihat sibuk dengan handphone masing masing, mengabadikan perjalan wisata.

Kadang perahu kami terombang ambing di badan sungai, terasa bagaikan terpental akibat arus yang bergelombang. Percikan kecil air sungai menyambut dan menyapa pakaian kami.

Di bawah terik sinar matahari siang, membuat sedikit kulit kami terasa panas.Kondisi ini tidak menyurutkan langkah menuju desa wisata unik di ujung Indragiri.

Justru kondisi itu mengasyikkan, walaupun hati terasa bergetar ada rasa takut, asyik di dalam perahu dihempas derasnya arus sungai. Sungai yang tidak terlalu dalam, ada juga terlihat bebatuan di tengah sungai hingga pengemudi Speedboat harus memutar haluan.

Sungai Gansal juga dijadikan objek wisata arum jeram, semua dikelola oleh Bumdes setempat. Biaya dikenakan berkisar Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per orangnya, jika memanfaatkan fasilitas yang disediakan dan itupun tergantung jarak tempuh.

Selain itu, mata tidak terpejam memandang kiri kanan sungai yang di tumbuhi oleh pepohonan langka, alami di kawasan hutan lindung.

Moment indah itu, tidak sia siakan oleh kami, terlihat Ibu Kapolsek yang disapa IPDA Nadya ikut berselfi di atas perahu.

Menurutnya, dirinya pun baru sekali mengikuti dan mendampingi wisatawan menuju Desa Bengayawan ujung Indragiri Hulu. Perjalan yang berkesan, dapat melepaskan jenuhnya keseharian dalam berkativitas.

Tepi sungai yang ditumbuhi semak belukar yang hijau, sekali kali terdengar suara burung berkicau. Jujur, dapat menghalau rasa khawatir jatuh dari perahu pun hilang.

Beberapa batu bersejarah, titik titik yang terlihat indah kami lewati, sepanjang perjalanan di atas arus air yang bergelombang. Momen yang indah menjadi saksi sejarah, kesempatan itu tidak pernah di sia siakan untuk memotret dan memvidiokan hingga batrei handpone pun lemah.

Ada batu naga, batu bidadari, jurang kecil, semua titik yang memiliki nilai mitos dan sejarah bernilai tinggi untuk di dokumentasi. "Sangat Indah" terpana, terpukau memandang suasana itu, semua asli, alami.

Pemandu wisata menceritakan semua itu sembari perahu melaju dengan kecepatan sedang. Pemandu wisata yakni warga setempat yang sudah memahami betul sejarah dan

medan perjalanan.

Satu jam berlalu, rombongan kunjungan wisata berhasil merapat di tepi desa Bengayawan, kaki kami turun dan sedikit meloncat dari perahu, pelan karena takut terjatuh.

Di depan, ternyata puluhan anak anak sudah menanti, menyambut ramah dengan kedatangan kami.

Sungguh mengagumkan, speedboad atau perahu yang kami tumpangi merapat berjajar di tepi sudut desa. Satu persatu kami turun menuju perkampungan unik, sederhana, tetua adat desa, penari, penggiat seni sudah menanti menyambut rombongan dengan tradisinya.

Tari khas, Unik di Siapkan Sebagai Penyambutan

Ternyata, masyarakat Desa Bengayawan sudah bersiap, dengan segala fasilitas penyambutan khas, rombongan yang tiba memasuki perkampungan Suku Talang Mamak ujung Indragiri Hulu yang berada di kawasan hutan TNBT.

Setiba kami di desa wisata itu, prosesi adat dimulai, bentangan tikar pandan di halaman rumah warga terbentang tepat pergelaran seni dan tradisi unik, langka.

Menarik, peragaan silat dan tari tradisional pun dimulai. Tari penyambutan wisatawan atau tamu yang datang ke desa tersebut. Sebelum dimulai, kami pun duduk bersama, kami juga disuguhi minuman khas yakni air aren asli yang disediakan oleh masyarakat setempat.

Aren diambil dari pohon yang tumbuh di wilayah tersebut, juga penopang ekonomi rumah tangga. Dalam suasana terlihat sakral, bau kemenyan pun mulai tercium jelas, wangi menyelimuti areal prosesi acara. Ternyata masyarakat Suku Talang Mamak masih menganut aliran kepercayaan, bakar kemenyan salah satu tradisi langka pertanda meminta izin kepada tetua adat, tetua kampung yang sudah berada di alam gaib.

Tiada lain, menurut salah satu warga setempat adalah izin meminta keberkahan, doa keselamatan, kelancaran dalam segala acara dan prosesi penyambutan tamu bagian dari tradisi yang tetap dipertahankan.

Setelah selesai, diskusi dan dialog pun berjalan antara tamu dan tokoh adat, warga setempat. Beberapa saat kemudian suguhan beberapa lagu dari dua pelantun sajak, lirik lagu daerah di persembahkan.

Menarik memang, ada terasa aura sakral yang muncul, suasana nyaman, ketenangan bathin mendengar alunan gitar mengiringi lagu yang di suguhkan. Rupanya, walaupun gitar yang terbuat dari kayu bertalikan nilon memiliki suara yang sangat indah tak kalah jika dibandingkan dengan alunan alat musik moderen.

Bahkan semakin memukai saat bunyi genderang yang keluar dari alat musik tradisional lainnya yakni sepotong bambu berukuran 50 CM, kering dilobangi kecil ternyata bisa mengeluarkan nada yang sangat indah di dengar telinga yang dimainkan warga.

Beberapa lagu usai dinyanyikan, tak lama setelahnya, tari silat di suguhkan dan tari penyambutan asli hasil kreasi warga setempat pun ditampilkan. Dengan kesederhanaan itu justru menghasilkan nilai tinggi. Sangat indah, memukau, hingga suasana semakin menyenangkan, tak heran wisatawan betah dan tertarik mengunjungi desa wisata ini kembali

Dari mulut seorang tokoh adat setempat, bahwa tradisi asli tersebut ada sejah ratusan tahun lalu dan hingga sampai setakat ini masih di pertahankan dan bahkan dilestarikan.

Saya pun berpikir, sebaiknya tradisi ini dipertahankan terus.Tangan tangan kepedulian harus ada memperhatikan mereka, seni budaya dengan fasilitas lebih di tingkatkan. Karena, jika tidak alat tradisional itu akan hilang dimakan usia.

Ada perhatian dari semua pihak untuk peduli dan ikut berperan aktip melestarikannya. Bahkan membuat usaha kerajinan yang bisa dijadikan sebagai oleh oleh buat tamu atau wisatawan yang datang.

Waktu pun berlalu, rombongan pun pamit dan izin untuk kembali menuju kota Pematang Reba. Prosesi perpisahan pun dilaksanakan, akhirnya kami serombongan kembali menuju perahu yang sudah terparkir di sudut desa tepian sungai gansal.

Tokoh Adat Desa Rantau Langsat

Masyarakat Suku Talang Mamak, sangat ramah, masih mempertahankan tradisi lokal, misalnya prosesi perobatan

Tradisional, Aliran kepercayaan yang masih meyakini adanya roh roh yang dapat memberikan berkah.

"Itulah unik dan mengundang wisatawan nasional ke desa wisata Suku Talang Mamak," sebut tokoh adat Saprudin yang kerap dipanggil Pak Tatung.

Ada seni budaya khas seperti tari penyambutan tamu, bersilat, berpantun dan sebagainya. Semua masih terlihat jelas, dilestarikan sejak ratusan tahun lalu.

Sejumlah Forkompinda berkunjung ke desa wisata Suku Talang Mamak.


Ini perlu perhatian pemerintah dan penggiat seni dan budaya, agar tidak hilang ditelan masa dan masuknya pengaruh budaya luar. Sedangkan kemampuan masyarakat lokal sangat terbatas.

Ini juga menyebutkan, seperti topi yang dipakainya, terbuat dari kulit kayu turap, tidak semua kayu bisa dijadikan topi tersebut, bahkan tradisi lokal makan sirih, merokok dengan sedikit menggunakan kemenyan oleh sebahagian warga setempat.

Memang terlihat sesuatu yang baru, jika kita memasuki desa wisata Indragiri Hulu, keunikan dan keanehan terlihat dimata membuat hati penuh tanda tanya dan justru ingin tahu lebih dalam lagi.

Kehidupan yang sederhana, melestarikan tradisi lokal yang taat adat. Walaupun masuk budaya lokal, namun masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan budaya luar.

Mereka percaya petuah, petatah petitih dari seorang datuk atau disebut ketua adat. Warga tidak akan melanggar adat yang sudah dipertahankan ratusan tahun dari leluhur mereka.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2021