
Peparnas: Melani Semula Diharapkan Jadi Guru

Melani Putri yang sebelumnya divonis menderita tuna grahita pada kelas 4 Sekolah Dasar, ia dicita-citakan orang tuanya menjadi seorang guru olahraga.
"Saya baru tahu kalau anak saya tidak bisa mengikuti sekolah formal. Setelah saya bawa dia ke psikolog, memang benar anak saya tidak bisa mengikuti pelajaran formal dan dia harus sekolah khusus," kata Pelatih Renang National Paralympic Committe (NPC) Riau dan orang tua kandung Melani Putri, Ahok, Selasa.
Namun, mengetahui anak terakhirnya menderita tuna grahita, tidak membuatnya merasa putus asa. Dipindahkan anaknya dari sekolah formal menjadi sekolah khusus sampai kelas enam.
Mengetahui anaknya banyak perkembangan, dia pun menjadi senang. "Jadi untuk pembinaan ini memang susah, misalnya kita ngomong. Belum tentu bisa dicerna dengan baik, akhirnya pakai isyarat dan barulah dia mengerti," ujarnya.
Tapi umumnya anak yang menderita tuna grahita, memang susah. Cuma karena dia diberi kekuatan dan ketabahan oleh Tuhan dalam membina anak-anak lainnya seperti anak saya sendiri, kata Ahok.
Proses dimana Melani bisa menjadi atlit, kebetulan orang tuanya adalah pelatih privat les renang yang mempunyai kolam renang 20x20 meter.
Secara kebetulan, Melani yang merupakan anak kelima dari lima bersaudara dari kecil memang dibawa ke kolam renang untuk mengisi kegiatan pada sore hari.
Pada saat duduk di kelas 1 Sekolah Dasar, Melani yang lahir di Kota Pekanbaru, 3 Mei 1998 sudah bisa berenang.
"Jadi waktu ngajar privat, saya sempatkan untuk melatih dia. Untuk pertama kalinya saya suruh berenang dengan gaya dada dan Alhamdulillah, sekarang dia sudah menguasai semu gaya," ungkapnya.
Melatih anak-anak yang menderita tuna grahita butuh kesabaran yang tinggi, karena mereka tidak bisa dipaksa.
"Kalau atlit yang normal, kita beri program langsung dia jalan. Apalagi begitu melihat wajah kita, dia sudah langsung jalan. Tapi kalau anak seperti ini, kita perlihatkan wajah kita, dilihat lagi oleh dia dan tidak jalan," katanya menjelaskan.
Pada iven Pekan Paralympik Nasional (Peparanas) ke-XIV di Riau yang berlangsung dari tanggal 7-13 Oktober 2012, Melani turun di empat nomor dengan tiga gaya masing-masing 50 meter gaya dada, 100 meter gaya dada, 50 meter gaya kupu-kupu dan 50 meter gaya punggung.
Melani Putri, berhasil meraih emas di nomor 50 meter gaya dada putri tuna grahita (S14) pada Peparnas XIV Riau yang digelar Senin, (8/10), di Kolam Renang Sport Center Rumbai dan sekaligus memecahkan rekor Asia Tenggara.
Melani berhasil menjadi yang tercepat dengan waktu 47.42 detik, dimana rekor Asia Tenggara sebelumnya juga berasal dari Indonesia pada Asean Paralimpik Games dipegang Fitriani dengan waktu 49.16 detik.
Selain itu, Melani yang berusia 15 tahun itu juga berhasil memecahkan rekor Peparnas XII 2004 yang dipegang oleh Mayangsari, perenang asal Sumatera Selatan dengan catatan waktu 59.00 detik.
Menyusul perak diraih Nadia Septina asal Kalimantan Timur yang memang terpaut jauh dengan waktu Melani, yakni 1 menit 05,29 detik dan medali perunggu diraih Silmiah asal Jambi dengan catatan waktu 1 menit 05,29 detik.
"Perasaan saya yang saya rasakan senang, dan Rani memang suka renang. Insya Allah Rani targetkan emas di Asean Paralimpik Games yang berlangsung di Myanmar nanti," ujar Melani.
Pewarta : Muhammad Said
Editor:
Muhammad Said
COPYRIGHT © ANTARA 2026

