
Gudeg, Pulang Kampung Ala Transmigran Kampar

Pekanbaru, (antarariau) - Ada bermacam cara dilakukan orang untuk bernostalgia dengan masa lalunya, seperti yang dilakukan oleh 50 orang lanjut usia anggota Posyandu Lansia Langgeng, Desa Suka Maju, Kecamatan Tapung Hilir, Kampar yang mencurahkannya dengan menyambangi warung makan Simbok Paus, di Jalan Paus, Pekanbaru, Minggu (23/9).
Puluhan lansia itu diantar oleh pengurus Posyandu, Kepala Desa Suka Maju, Kasrun dan istrinya Aminah untuk bernostalgia dengan kampung halaman di Pulau Jawa, setelah puluhan tahun bermukim di Riau, sejak mereka bertransmigrasi di Riau pada dasawarsa 70-an.
"Puluhan tahun saya tidak pulang ke Jawa, begitu cium aroma brongkos langsung terasa pulang kampung," kata nenek Atmo (70), dalam bahasa Jawa halus, mengomentari hidangan yang disajikan.
Nenek Atmo tak berlebihan, perempuan asal Wonogiri, Jawa Tengah itu telah menjadi warga Riau sejak tahun 1970. Ia mengaku masih selalu ingat kampung halamannya, namun ia jarang bisa pulang, karena tubuhnya sudah tidak lagi kuat untuk menempuh perjalanan jauh ke Jogjakarta.
Selain Nenek Atmo, ada Pak Modjo (78), yang bahkan merasa rasa ingin pulangnya tergantikan dengan makan gudeg, dengan diiringi alunan musik Jawa.
"Gantinya pulang, ya makan gudeg ini, sambil mendengar uyon-uyon (lagu Jawa)," katanya dalam bahasa Jawa.
Meski rata-rata para lansia sudah tidak bergigi utuh, namun mereka terlihat lahap dan bersemangat menyantap opor ayam kampung bersama seporsi gudeg. Gudeg adalah masakan khas Jogjakarta berbahan dasar nangka muda, yang dimasak sedemikian rupa hingga berwarna cokelat kehitaman. Rasanya yang cukup manis, dipadukan dengan rasa gurih opor, dan wanginya sambal krecek (semacam kerupuk kulit), serta pedasnya sambal terasi selalu dirindukan oleh orang yang memiliki sejarah dengan kota budaya itu.
Pengurus Posyandu, Wati merasa sangat bahagia dapat membantu generasi perintis desanya mengurangi rasa rindu mereka kepada kampung yang puluhan tahun ditinggalkan, demi memperbaiki taraf hidup.
"Para orang tua kami telah bekerja keras membuka hutan, bertani sehingga kami generasi kedua dan ketiga ini bisa sejahtera," kata Wati, "Sebuah kewajiban untuk kami untuk berusaha membahagiakan mereka di usia senjanya," lanjutnya.
Wati merasa beruntung, di Pekanbaru, tempat yang jauh dari kampung halamanan orangtuanya di Jogjakarta, ia mendapati tempat makan yang menyajikan menu dengan resep asli dari Jawa.
"Jadi pulang kampung tak perlu jauh, tinggal ke sini saja," katanya.
Senada dengan Wati, Kepala Desa Suka Maju, Kasrun merasa sudah kewajibannya sebagai kepala desa berjalan seiring dengan kewajibannya sebagai anak bagi para orang tua itu.
"Berusaha membahagiakan, itu mungkin salah satu cara yang kami dapat lakukan untuk berbakti," katanya.
Menurut Kasrun, mengantar warga sepuh (tua) nya ke Pekanbaru, jauh lebih memungkinkan, karena hanya memerlukan waktu tempuh kurang dari dua jam dari desanya.
Desa Suka Maju masih memiliki banyak penduduk lansia. Rata-rata lansia adalah pemukim pertama, sejak wilayah itu dibuka untuk Sentra Perkebunan (SP) dan dihuni oleh transmigran asal Jawa. Hal tu membuatnya harus mengerahkan mobil warga untuk mengantar para lansia.
"Meskipun harus pakai 6 mobil, kami justru seperti merasa piknik sekaligus pulang kampung," katanya.
Kedatangan rombongan lansia itu tak ayal membuat pemilik warung ekstra sibuk, karena harus melayani dengan cepat secara bersamaan.
Pemilik warung, Tatag Diratmadja (30) adalah warga perantauan asal Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta, yang telah menetap di Pekanbaru sejak tahun 2009.
Banyaknya perantau dan transmigran asal Pulau Jawa di wilayah Riau membuat sarjana psikologi itu banting stir menggeluti usaha, dan meninggalkan pekerjaan lamanya.
"Saya dulu bekerja di sebuah perusahaan farmasi, tapi sejak setahun lalu, saya berhenti untuk menekuni bisnis kuliner, terutama ya gudeg ini," katanya.
Simbok Paus, adalah sebuah warung atau kedai makan yang menyajikan menu masakan khas Jogjakarta, seperti gudeg, brongkos, soto dan pecel. Disamping itu, ada beberapa menu pilihan seperti opor ayam kampung, bebek, telur dan aneka baceman.
Pewarta : Joko Sulistyo
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

