Logo Header Antaranews Riau

Warga dan PT RAPP bakupukul

Rabu, 7 Maret 2012 06:39 WIB
Image Print

Kampar - Konflik berkelanjutan akibat sengketa lahan antara masyarakat Desa Gunung Sahilan di wilayah Dusun Komang dan pihak PT RAPP, akhirnya berbuntut bentrok fisik, Selasa.

Sekitar 700 warga pemilik lahan yang merasa dirugikan, sekitar pukul 10.00 WIB, terlibat bakupukul dengan 'security' (satuan keamanan) bersama para pekerja PT 'Riau Andalan Pulp & Paper' (RAPP), salah satu perusahaan produsen kertas terbesar.

Kepala Desa Gunung Sahilan, Masopian, kepada ANTARA, mengungkapkan, akibat bakupukul serta aksi saling lempar batu, empat warga desa mengalami luka-luka, sementara di pihak PT RAPP dua orang.

Dikatakan, suasana semakin tak terkendali, ketika sebanyak 72 unit kendaraan roda dua milik warga Desa Gunung Sahilan yang diparkir di areal sengketa, secara mendadak diseruduk alat berat berupa satu unit 'spider' milik PT RAPP.

Akibatnya, menurutnya, sedikitnya 50 unit di antaranya mengalami rusak ringan hingga berat.

Dikatakan melalui telepon selulernya, sekitar pukul 14.45 WIB, Selasa (6/3) siang,situsai di lokasi bentrokan telah terkendali.

Namun dikatakan, pihak keamanan, baik dari Polsek dan Koramil Kampar Kiri, masih berada di lokasi bentrokan, guna mengantisipasi berbagai kemungkinan.

"Jumlah warga Desa Gunung Sahilan yang terlibat bentrokan sedikitnya sekitar 700 orang. Sedangkan dari pihak PT RAPP juga mengerahkan puluhan 'security' dan ratusan pekerja," paparnya.


Kronologi Peristiwa

Bentrokan terjadi karena kedua belah pihak saling klaim sebagai pemilik lahan.

Namun, warga Desa Gunung Sahilan merasa lahan yang dipersengketan merupakan milik mereka turun temurun, sehingga sejak beberapa tahun terakhir menanaminya dengan tanaman karet.

"Karetnya telah mulai tumbuh subur dan dirawat dengan baik oleh masyarakat," katanya.

Sementara dari pihak PT RAPP, lanjutnya, secara perlahan namun pasti juga mulai menggarap areal di sekitar wilayah sengketa.

"Yakni menanami lahan itu dengan tanaman kayu, berupa 'kayu Acasia' sebagai bahan baku kertas," ungkapnya.

Masopian mengungkapkan, sudah sejak lama terjadi sengketa lahan antara kedua belah pihak yang saling klaim memiliki lahan.

Akhirnya, tuturnya, ada warga setempat yang mengalah karena merasa dirinya tak mungkin mampu mempertahankan lahan sengketa tersebut.

"Namun ada pula warga yang tetap bertahan mempertahankan hak yang meraka rasa sebagai hak mereka secara turun temurun dengan asumsi keberadaan mereka jauh lebih duluan di wilayah tersebut dari pada kehadiran pihak PT RAPP," katanya.

Dikatakan, ke-700 orang warga itulah antara lain yang berangkat menunju Komang (lokasi sengketa), dengan maksud mempertahankan hak mereka berupa kebun karet lama dan kebun karet baru dari upaya pelebaran areal pertanaman kayu 'Acasia' pihak PT RAPP.

Sesampai di lokasi, ungkapnya, sebenarnya pada awalnya terjadi dialog untuk saling mempertahankan hak atas lahan sengketa.

"Puas berdialog dengan mulut yang tak ada titik penyelesaian, maka akhirnya terjadi saling lempar batu dan lempar apa-apa saja benda yang dapat dilemparkan di sekitar lokasi sengketa," ujarnya.

Ditambahkan, kedua belah pihak sepertinya memang telah saling bersiap.

Namun, menurutnya, pihak PT RAPP sepertinya jauh lebih siap, yakni dengan mengerahkan alat berat untuk mengusir warga.

"Warga pun tak mau mundur. Akhirnya alat berat berupa satu unit 'spider' yang dikemudukan pekerja dari PT RAPP itu menggilas kenderaan bermotor milik warga," papar Masopian, yang dibenarkan beberapa orang warga Desa Gunung Sahilan.

Saat situasi mulai memanas, lanjutnya, pihak keamanan dari Kampar Kiri dan Gunung Sahilan tiba di lokasi bentrokan, kemudian segera mengambil langkah-langkah pengamanan, agar tidak jatuh korban.

"Saya lalu memberikan penjelasan tentang kronologis dan situasi terkini kepada Kapolres Kampar, AKBP Trio Santoso,", ujar Masopian.

Secara terpisah, Camat Gunung Sahilan, Dasman, yang dihubungi melalui telefon seluler, mengatakan, ia sedang sakit, namun mengaku sudah mengetahui adanya bentrokan antara warga Desa Gunung Sahilan denganpihak 'security' bersama pekerja PT RAPP.

Beberapa tokoh masyarakat Serantau Kampar Kiri ketika diminta komentarnya atas tragedi bentrokan warga Desa Gunung Sahilan kontra 'security' dan pekerja PT RAPP, mengharapkan agar pihak keamanan dapat memulihkan situasi secara baik serta adil.

"Keduabelah pihak diminta menahan diri, dan hendaknya pertikaian itu diselesaikan secara baik melalui meja perundingan guna mendapatkan hasil yang mampu memuaskan kedua belah pihak," ujar Bupati Kampar, H Jefry Noer.

Sedangkan Kapolres Kampar, AKBP Trio Santoso yang dihubungi belum dapat dimintai keterangan.

Hanya saja melalui Kapolsek Kampar Kiri, Kompol Azwar, disebutkan, situasi sudah aman dan terkendali.



Pewarta :
Editor: Netty Mindrayani
COPYRIGHT © ANTARA 2026