
Pekanbaru Aman Dari Flu Burung

Pekanbaru, (ANTARARIAU News) - Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Aryantoni, mengatakan, hingga saat ini 'kota bertuah' itu masih aman dari serangan flu burung yang dikhabarkan mulai mewabah lagi di daerah lain.
"Indikasinya, hingga kini belum ditemukan kasus unggas yang terinveksi maupun unggas yang mati akibat virus H5N1 tersebut," katanya kepada ANTARA di Pekanbaru, Kamis.
Kendati demikian, menurutnya, meskipun belum ditemukan kasus flu burung, pihaknya terus melakukan pemantauan melalui tim yang dibentuk oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru.
Tim dimaksud, lanjutnya, bernama "Partisipatory Disease Surveilance Respons" (PDSR), yangterdiri dari 12 orang dari gabungan dokter hewan dan Sarjana Peternakan.
"Tim ini selalu melakukan monitor di setiap kelurahan yang dibantu tim dari kelurahan juga. Tim ini terjun langsung ke masyarakat melakukan survei terhadap unggas dan ternak lainnya, sehingga sampai saat ini masih dalam pengawasan," ujarnya.
Ia mengakui, manfaat dari tim tersebut sangat dirasakan oleh warga Kota Pekanbaru.
"Karena dengan adanya tim tersebut yang terjun ke lapangan membantu masyarakat, bahkan juga untuk melakukan perawatan yang baik bagi ternak unggas mereka, agar terhindar dari virus H5N1, benar-benar sangat membantu," katanya.
Itulah sebabnya, demikian Aryantoni, warga kota masih aman dari serangan flu burung.
"Sejauh ini belum ditemukan kasus flu burung. Dan ini semua berkat dukungan tim PDSR yang giat beraktivitas di lapangan," tuturnya.
Namun ia juga berpesan kepada masyarakat untuk lebih waspada terhadap penyebaran flu yang mematikan tersebut.
"Karena, dengan membiasakan hidup bersih dan pola pengasuhan ternak yang baik, maka akan terhindar dari bahaya virus tersebut. Kami tetap waspada juga, apalagi saat ini musim peralihan cauca, jadi sangat rawan sekali penyebaran virus H5N1," katanya mengingatka.
Aryantoni menghimbau agar masyarakat lebih proaktif dalam menghadapi ancaman flu burung tersebut, dan hendaknya mematuhi peraturan serta tata cara menangani kasus virus mematikan tersebut.
"Salah satunya, dengan tidak menyentuh unggas tanpa pelindung tangan, juga menggunakan masker. Selain itu, laporkan ke Ketua Rukun Tetangga atau Rukun Warga (RT/RW) serta kelurahan, jika menemukan unggas mati. Selanjutnya, bakar dan kubur bangkai burung, lalu mencuci tangan dengan deterjen," urainya.
Dikatakan, ayam yang sakit juga jangan dijual belikan, dan pastikan kandang unggas selalu bersih dengan melakukan pencucian tiga kali sebulan.
"Dan yang penting, tetap waspada dan berhati-hati menanganinya, karena setiap saat virus ini selalu menjadi ancaman bagi kita," demikian Aryantoni.
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

