Logo Header Antaranews Riau

Pemadaman listrik Riau masih berlanjut

Kamis, 27 Oktober 2011 12:02 WIB
Image Print

Pekanbaru, (ANTARARIAU News) - Sebagian wilayah Kota Pekanbaru, Provinsi Riau yang merupakan kawasan kerja PT PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Kamis, masih mendapat giliran pemadaman bergilir dengan rentang waktu beragam mulai dari dua hingga tiga jam.

Sejumlah warga Pekanbaru mengaku kesal atas kondisi tersebut mengingat program pemadaman listrik yang dilakukan perusahaan berbadan usaha milik negara itu tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

"Di daerah saya dekat Bukit Raya tadi malam (Rabu 26/10) listrik mati sejak jam 19.00 WIB. Matinya pun tidak tentu," kata seorang warga Bukit Raya, Pekanbaru Darto.

Darto menjelaskan, awalnya listrik padam pada pukul 19.00 WIB, namun pada pukul 19.30 WIB kembali menyala sekitar setengah jam sebelum kemudian kembali padam hingga pukul 20.30 WIB.

"Nyala listrik itu juga tidak bertahan lama, pada jam 21.00 WIB, listrik kembali mati, bahkan sangat lama. Sampai saya sekeluarga tidur jam 23.00 WIB, listrik belum juga hidup," katanya.

Warga lainnya di wilayah yang sama, Juniarti, juga mengaku kesal atas kondisi kelistrikan yang 'biar pet' tersebut, karena berpotensi merusak berbagai elektronik seperti televisi, kulkas dan lainnya.

"Pada 2010, PLN juga sempat melakukan pemadaman bergilir. Akibatnya, banyak elektronik saya yang rusak termasuk televisi dan kulkas," ujarnya.

Sebelumnya General Manejer PT PLN WRKR Djoko R Abumanan mengakui sejauh ini pihaknya masih terus mengalami defisit energi listrik sehingga pemadaman bergilir terpaksa diberlakukan.

Bahkan Djoko mengakui selain defisit energi, pihaknya juga tengah mengalami defisit anggaran hingga mencapai Rp900 miliar.

"Sejauh ini kami masih terus defisit bukan hanya pada daya atau energi listrik yang didistribusikan ke pelanggan, tapi juga defisit dalam bentuk anggaran.

Setiap tahun, kami belum dapat memberikan kontribusi ke kas negara, yang ada hanya kerugian hingga ratusan miliar," kata Djoko sambil menunjukkan data defisit PLN WRKR di ruang kerjanya di Pekanbaru.

Menurutnya, kerugian yang ditelan PLN WRKR setiap tahunnya sudah sangat mengkuatirkan, dimana dana pemasukan dengan pengeluaran sudah sangat tidak berimbang.

"Kalkulasinya seperti ini, pemasukan kami hanya sekitar 20 persen dari omset yang diraup. Sementara dana keluar atau yang dibutuhkan mencapai lebih dari 40 persen. Kondisi ini sangat menghambat kami dalam melangkah dan menyelesaikan program yang ada," demikian Djoko.



Pewarta :
Editor: Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026