
2.196 Titik Api Di Sumatra Selama September

Pekanbaru, 12/9 (ANTARA) - Data monitoring satelit "National Oceanic and Atmospheric Administration" (NOAA) 18 diuraikan staf Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru terkumpul sedikitnya 2.196 titik api di Sumatera selama September 2011.
Staf Analisa BMKG Riau di Pekanbaru, Warih Budi Lestari, Senin, mengatakan, ribuan titik api tersebut tersebar dihampir seluruh provinsi se Sumatera dengan sebaran terbanyak di Sumatra Selatan mencapai 1.248 titik.
Setelah itu menyusul Provinsi Jambi dengan titik api sebanyak 353, Riau 301, Lampung 140, Bangka Belitung 80, Sumatra Utara 31, Sumatra Barat 17, Bengkulu 16 serta Provinsi Aceh dan Kepulauan Riau masing-masing terdeteksi tujuh dan tiga titik api.
Tingginya kemunculan titik api menurut Warih disebabkan sebagian besar wilayah Sumatera masih dikurung kemarau hingga menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kekeringan dan menyulut terjadinya kebakaran atau pembakaran hutan dan lahan semak belukar.
Untuk Riau Warih menguraikan, sebanyak 301 titik api selama dua pekan di September 2011 tersebar di sepuluh kabupaten/kota meliputi Kabupaten Rokan Hilir 16 titik, Rokan Hulu 10, Bengkalis sembilan, Siak 14, Kampar sembilan, Pelalawan 74, Indragiri Hulu 80, Indragiri Hilir 69 dan Kuantansingingi 16 titik api.
"Selanjutnya untuk Kota Dumai, selama September terdeteksi delapan titik api. Sementara untuk kabupaten/kota lainnya seperti Meranti dan Pekanbaru masih nihil titik api," kata Warih.
Menurut Warih, puncak titik kemunculan titik api diseluruh wilayah Sumatera terjadi pada 9 September 2011, jumlahnya mencapai lebih dari 691 titi api.
"Berdasarkan analisa dan prediksi, hari ini hingga beberapa hari kedepan titik api masing cenderung fluktuatif atau bisa bertambah atau bahkan menurun," ujarnya.
Kondisi tersebut menurut Warih disebabkan kondisi cuaca untuk sebagian besar wilayah Sumatera khususnya Riau masih mengalami masa transisi atau peralihan cuaca dari kemarau ke musim penghujan," demikian Warih Budi Lestari.
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

