Mengoyak ketakutan melawan keterbatasan

id Rapp, beasiswa,PT RAPP, beasiswa RAPP

Mengoyak ketakutan melawan keterbatasan

Mizwan Nozisca menangis saat bercerita sulitnya menjadi mahasiswa akibat keterbatasan ekonomi. (Anggi Romadhoni)

Pekanbaru (ANTARA) - Bagi sebagian orang, melanjutkan pendidikan tinggi di bangku perkuliahan merupakan impian. Meski beberapa di antara mereka tidak menganggapnya sebagai pilihan.

Keadaanterkadang bisa saja memupus harapan mereka yang menjadikan pendidikan tinggi itu untuk menata kehidupan.

Akan tetapi pengorbanan, tekat dan dorongan serta doa menjadi bisa mematahkan ketakutan dan menjadi modal mutlak yang bisa diandalkan.

Pengorbanan yang begitu dalam hingga harus rela meninggalkan keluarga dan kehidupan. Untuk meraih satu impian, kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Mizwan Nozisca, pemuda itu lebih kuat dari usianya yang baru beranjak dewasa. Tubuhnya yang kurus ternyata juga lebih tegar dalam menaklukkan ketakutan.

Selama 20 tahun, pemuda itu tumbuh dalam hidup serba kekurangan. Menjadi anak yatim di usianya masih belia, membuat pria kelahiran Kuantan Singingi itu tak memiliki banyak pilihan. Termasuk keinginan kuatnya mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan.

Mizwan saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester tiga jurusan Pengembangan Masyarakat Islam di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Kota Pekanbaru, Riau.

Di hadapan wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution dan Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper Rudi Fajar, berulang kali pemuda asal Kabupaten Kuantan Singingi itu menyeka air mata. Terlebih ketika dia mengingat dan berkisah tentang perjuangan ibunya. Membesarkan dia dan satu kakak serta satu adiknya.

Bagi Mizwan, kuliah awalnya hanyalah impian belaka. Impian pemuda kampung yang hidup dalam segala keterbatasan.

"Saat bangku kelas XII teman-teman saya sibuk memilih kampus. Saat itu saya hanya bisa diam dan tak banyak berharap. Bagi saya, kuliah hanyalah angan-angan," katanya di hadapan ratusan mahasiswa dan siswa penerima beasiswa pendidikan community development PT RAPP.

Mizwan pun pernah menyampaikan niatnya untuk kuliah kepada ibunya. Namun, ibunya hanya terdiam. Diam yang menyiratkan beribu makna, bagi ibu yang hanya mengandalkan karet untuk membesarkan tiga buah hatinya. Jawaban yang seharusnya dia bayangkan sebelumnya keluar dari ibu tunggal yang berjuang seorang diri.

Tanpa sadar, pemuda itu kembali menyeka air mata saat mengingat ibunya di desa. Niatnya sempat memudar kala itu. Bahkan dia sempat berniat mengubur dalam-dalam cita-citanya.

Usai lulus sekolah, dia pun memutuskan untuk bekerja serabutan. Namun, seiring jalannya waktu, dia kembali berpikir lebih dalam. Bahwa hidupnya, ibunya dan adik serta kakaknya tidak akan berubah jika dia harus menyerah pada kehidupan.

Keinginannya untuk kuliah kembali membuncah. Dia harus memutar otak, dan tak lagi mengandalkan biaya dari ibunya. Pikiran pertamanya adalah, bagaimana caranya agar dia bisa ke kota terlebih dahulu. Ke kota, untuk lebih dekat dengan perguruan tinggi idamannya.

Dengan restu dan doa orang tua, dia pun berangkat ke Pekanbaru, yang berjarak sekitar lima jam perjalanan darat dari desanya. Di kota itu, dia masih harus lebih bersabar. Dia pun kembali bekerja serabutan di sebuah rumah makan, sambil menunggu kesempatan.

Saat kesempatan itu tiba, dia memberanikan diri mendaftar kuliah. Dia diterima. Di kampus Islam cukup terkemuka, UIN Suska. Jurusannya pun sesuai dengan yang dia harapkan, memperdalam ilmu agama.

Persoalan kembali datang ketika dia harus kuliah dan terpaksa meninggalkan kerja. Beruntung, dengan doa orang tua serta tekat kuatnya, dia berhasil meraih beasiswa. Beasiswa pendidikan program CD PT RAPP, dengan jumlah yang menjanjikan.

"Saya dan keluarga sangat terbantu, apalagi kami ini dari keluarga tidak mampu," ujarnya.

Kini, Mizwan pun bisa fokus kuliah tanpa harus merisaukan biaya. Dengan tegas dia mengatakan akan segera menyelesaikan pendidikannya dan meraih cita-cita untuk mengangkat derajat keluarga.

Kisah Mizwan merupakan gambaran yang nyaris sama dialami oleh 5.000 lebih penerima beasiswa pendidikan PT RAPP yang bergulir sejak 1999 itu.

Pada 2019 ini, sebanyak 300 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat dan 120 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se Provinsi Riau berhasil meraih beasiswa Program Pendidikan Community Development PT Riau Andalan Pulp and Paper.

"Syarat (penerima) dari beasiswa ini kita fokuskan kepada siswa dan mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi," kata Direktur Community Development PT RAPP BR Binahidra.

300 siswa SMA sederajat yang menerima beasiswa itu berasal dari 50 sekolah di lima kabupaten di Riau. Lima kabupaten itu merupakan wilayah operasional perusahaan produsen fiber, pulp dan kertas terkemuka di dunia tersebut. Diantaranya adalah Kabupaten Kepulauan Meranti, Pelalawan, Kuantan Singingi, Kampar dan Siak.

Sementara 120 mahasiswa penerima beasiswa yang berjalan sejak 2016 itu berasal dari 12 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta dari seluruh wilayah Bumi Lancang Kuning, Riau.

Hingga kini, lebih dari 5.000 siswa dan mahasiswa Provinsi Riau mendapat manfaat besar program beasiswa pendidikan dari PT RAPP. Ke depan, program serupa akan terus dilaksanakan dan diperluas.

"Total yang kita berikan sekitar 5.000 beasiswa. Mudah-mudahan ini sesuai harapan kita memberikan investasi pengembangan generasi muda, baik pribadi, keluarga maupun berkontribusi memajukan negeri kita," ujarnya.

Selain memberikan beasiswa program ini juga terus dikembangkan dan menyasar peningkatan kualitas tenaga pendidik hingga peningkatan akreditasi institusi pendidikan.

"Karena tujuan program ini adalah kontribusi pada peningkatan angka partisipasi sekolah, menurunkan angka putus sekolah sehingga mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan," tuturnya.

Direktur PT RAPP, Rudi Fajar mengatakan program beasiswa pendidikan merupakan kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada tujuan nomor empat, yakni menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat.

“Program beasiswa ini menjadi salah satu program unggulan. Dengan adanya beasiswa, kami mendukung upaya pemerintah meningkatkan akses pendidikan. Perusahaan tidak ingin para siswa yang berdomisili di sekitar daerah operasional putus sekolah,” ujar Rudi.

Ia memastikan pihaknya akan terus menjalin kolaborasi dengan pemerintah, mulai dari tingkat desa dan sekolah untuk menjaring dan mencari siswa yang benar-benar membutuhkan bantuan untuk menunjang pendidikan mereka, sekaligus meningkatkan prestasi belajar.

Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution mengatakan bahwa program beasiswa pendidikan yang digulirkan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) kepada ribuan siswa dan mahasiswa di Bumi Lancang Kuning tersebut selaras dengan visi Riau 2025.

"Program ini sangat luar biasa. Dan tentunya besar pula manfaat bagi suksesnya pembangunan yang kita jalankan saat ini, dalam rangka terwujudnya masyarakat Riau sejahtera lahir dan batin. Yang tercantum dalam visi Riau 2025," kata purnawirawan TNI AD tersebut kepada Antara di Pekanbaru.

Edy berharap program beasiswa pendidikan PT RAPP terus diperluas dan tidak hanya sebatas wilayah operasional perusahaan fiber, bubur dan kertas terkemuka di dunia tersebut.

"Progam ini sangat didambakan oleh saudara kita yang kurang beruntung secara ekonomi," tuturnya.

Dia mengatakan program tersebut sangat didambakan bagi putra putri generasi penerus bangsa yang tinggal di Bumi Lancang Kuning. Dia mengakui bahwa program yang dijalankan pemerintah tidak seutuhnya bisa mengkaver peningkatan pendidikan di Riau.

Untuk itu, dia sangat mengapresiasi program yang dijalankan PT RAPP. Selain itu, dia juga mengimbau kepada perusahaan lainnya yang beroperasi dsudah seharusnya diikuti perusahaan besar lainnya yang beroperasi di Riau.

"Saya mewakili pemerintah provinsi Riau dan masyarakat Riau mengucapkan terimakasih setulusnya dan setinggi-tingginya dengan program ini," ujarnya.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar