Pers tidak perlu terjebak dengan isu sampah

id Pers,Isu sampah

Pers tidak perlu terjebak dengan isu sampah (Antaranews)

Pekanbaru (Antaranews Riau) - Pengamat media dari Universitas Andalas, Syaiful Wahab mengisyaratkan pers tidak perlu terjebak dengan isu sampah yang tidak mendidik.

"Mestinya peranan pers mencerdaskan masyarakat dan membangun peradaban, karena dengan pers orang menjadi tahu, bertambah pengetahuan dan ilmunya," kata Syaiful dihubungi dari Pekanbaru, Senin.

Menurut dia, mencermati peringatan Hari Pers NAsional(HPN) pada, 9 Februari 2019, jika Pers mendorong masyarakat memiliki pengetahaun yang tinggi, maka akan semakin tinggi peradaban maka semakin tinggi kebudayaan.

Sebab, katanya, kebudayaan berisi cipta, rasa maupun karya, dan mestinya dengan pers semakin tinggi hasil karyanya dan tata kramanya, dan jangan ikut-ikutan menjadi media sosial yang tidak jelas cita rasa dan tata kramanya.

Baca juga: Melalui Pers dan usaha mendorong ekonomi digital

"Pers harus konsisten dengan kode etik jurnalistiknya, disamping itu harus jelas visi serta segmen masyarakat yang hendak dijangkau dan tidak perlu terjebak dengan isu-isu sampah yang tidak mendidik," katanya.

Ia mengakui bahwa, kadang-kadang justru pers sendiri yang ikut-ikutan membuat isu sampah itu semakin viral atau menjadi trending topik dalam masyarakat.

Akhirnya pers, katanya lagi, bukan lagi mencerdaskan tetapi justru malah "membodohi" masyarakat, pada akhirnya peradaban atau kebudayaan kita tidak juga membaik.

Disinggung tantangan Pers di era digital, Syaiful menyarankan bahwa sebaiknya media massa tetap memproduksi berita versi cetaknya, manual maupun digital, sebab jika hanya mengandalkan versi digitalnya, akan banyak sekali kelemahannya karena lebih rentan disalahgunakan atau dimodifikasi untuk kepentingan orang yang tidak bertanggung jawab.

"Versi cetak meskipun jangkauannya terbatas namun masih lebih akurat dan valid untuk digunakan sebagai bahan pembuktian atas sebuah kebenaran atau fakta," katanya.

Sedangkan bagi media massa audio visual, tantangannya adalah professionalisme dalam mencari sumber berita, karena tantangan terberat datang dari merebaknya citizen journalism, yakni masyarakat terlibat aktif menjadi jurnalis dengan memberikan informasi langsung dari TKP, dan ini berbahaya jika tidak disertai dengan kode etik jurnalistik.

Masyarakat, katanya, memang membutuhkan informasi langsung, tetapi kadang-kadang informasi tersebut tidak jarang justru menambah parah kekisruhan yang terjadi.

" Oleh karena itu insan Pers harus mampu menangkal informasi citizen journalism ini dengan sajian berita yang lebih professional, seimbang dan mendidik," tandas Syaiful.

Baca juga: Kritik Pedas Fadli Zon untuk Penghargaan Kemerdekaan Pers Presiden Jokowi

Baca juga: Dewan Pers Terima 600 Pengaduan Tiap Tahun


Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar