Logo Header Antaranews Riau

Otda Dan Listrik Kendala Pengembangan Jaringan Seluler

Selasa, 10 Agustus 2010 07:54 WIB
Image Print

Pekanbaru, 10/8(ANTARA) - Otonomi daerah dan keterbatasan listrik menjadi kendala sejumlah operator seluler di Riau untuk mengembangkan jaringannya.

"Sejak adanya otonomi daerah, banyak perda-perda yang tidak memihak pada pengusaha. Contohnya saja, aturan ketinggian tower dan biaya yang dikeluarkan yang tidak masuk akal," ujar Benny Sulaksono, Deputy General Manager Central Sumatera PT Hutchison CP Telecommunication di Pekanbaru, Selasa.

PT Hutchison CP Telecommunication merupakan salah satu operator seluler yang mengeluarkan nama produk Tri.

Ia menjelaskan, perda-perda itu membuat biaya membangun tower menjadi sangat mahal dan tidak sebanding dengan jumlah pemasukan akibat penambahan jaringan itu.

Permasalahan kedua, adalah permasalahan listrik karena di daerah tertentu seperti di Ujung Batu, Rokan Hulu, pasokan listrik di daerah tersebut yang mengalami defisit sehingga sulit mengembangkan jaringan.

"Lampu penduduk di daerah tersebut saja sudah redup, apalagi untuk menjalankan Base Transceiver Station (BTS) yang ada," jelas dia.

Dia mengatakan pihaknya sudah berupaya, untuk menjalankannya dengan menggunakan genset yang menggunakan solar, namun biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan apa yang dihasilkan.

"BTS kita yang ada untuk Sumatera mencapai 8 ribu. Sekitar 2 ribu diantaranya berada di Riau. Rencananya tahun ini, dari alokasi anggaran 70 persen digunakan untuk pembangunan BTS baru," katanya.

Ia berharap, pemda memberikan keringanan bagi operetor seluler untuk mengembangkan jaringan karena ketersediaan jaringan itu bisa menunjang pertumbuhan ekonomi daerah setempat dan memudahkan masyarakat untuk berkomunikasi dengan tarif terjangkau.

"Tarif seluler tri masih paling murah sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat secara luas," tambahnya.



Pewarta :
Editor: Indriani
COPYRIGHT © ANTARA 2026