Logo Header Antaranews Riau

Round Up - Polisi Atas Teror di Mapolda Riau

Kamis, 17 Mei 2018 14:30 WIB
Image Print

Pekanbaru (Antarariau.com) - Rangkaian aksi teror yang terjadi pada beberapa wilayah di Indonesia dimulai dari Markas Brimob di Kelapa Dua, Depok, Rabu (9/5) dini hari, dan terbaru di Markas Polda Riau, Rabu (16/5) pagi, akhirnya dapat diatasi.

Aparat kepolisian dengan cepat mampu melumpuhkan pelaku serta menangkap beberapa orang terkait lainnya dalam aksi teror tersebut.

Aksi teror yang ditujukan untuk menumbuhkan rasa takut, kepanikan dan kehebohan itu, sepertinya pesan yang diinginkan kelompok radikal dinilai tidak mengena di masyarakat, berkat kecepatan aparat dalam meringkus pelaku serta memetakan jaringannya.

Pengamat Hukum dari Universitas Riau Dr Erdianto Effendi memberikan apresiasi kecepatan aparat Kepolisian RI dalam bertindak, sehingga tidak lebih banyak lagi korban jatuh akibat aksi teroris itu.

"Kita berikan apresiasi terhadap tindakan cepat dilakukan kepolisian terhadap penyerangan ke Markas Polda Riau, Kota Pekanbaru, dan melumpuhkan PG (23), AS (23), SU (28), dan MR (48), warga Provinsi Riau itu," kata Erdianto, di Pekanbaru, Kamis.

Menurut Erdianto, terorisme seperti kejahatan lainnya tidak mungkin hilang sama sekali dalam kehidupan masyarakat, dan tugas hukum adalah meminimalkan semua kejahatan termasuk dalam hal ini kejahatan terorisme.

Ia mengatakan, sejak 10 tahun terakhir memang terjadi penurunan kualitas kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang disebut sebagai teroris.

"Namun demikian kejahatan terorisme adalah kejahatan bagi seluruh umat manusia, bukan saja bagi mereka yang menjadi korban secara fisik, tetapi umat Islam yang menjadi korban fitnah, sehingga menimbulkan ketidakharmonisan dalam hubungan antarmasyarakat di Indonesia," katanya lagi.

Karena itu, fungsi intelijen dalam rangka mencegah dan menangkal terjadi aksi-aksi terorisme harus ditingkatkan.

Demikian juga dukungan masyarakat luas untuk cepat dan tanggap terhadap hal-hal baru yang mencurigakan agar dikoordinasikan dengan aparat penegak hukum.

Pemberantasan tindak pidana terorisme, katanya, harus dilakukan dengan instansi lainnya seperti imigrasi dalam rangka pengawasan lalu lintas manusia dari dan keluar Indonesia.

Harus ada pemeriksaan ketat terhadap mereka yang akan pergi dan pulang dari wilayah konflik, seperti wilayah-wilayah yang saat ini dikuasai oleh ISIS.

Selain itu, lebih penting lagi yaitu tindakan preventif mencegah tindak pidana terorisme dengan jalan peningkatan program-program deradikalisasi. "BNPT harus dapat secara efektif menjalankan kegiatan deradikalisasi," ujarnya pula.

Pelaksana Tugas Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim menyatakan apresiasinya terhadap jajaran Polda Riau dalam penanganan teror di markas polisi itu, meski harus jatuh korban jiwa dari pihak kepolisian.

"Pengamanan Mapolda Riau sudah begitu ketat, tapi bisa terjadi hal ini (teror) juga, ya mau bagaimana lagi. Tapi dari tiga orang (pelaku) yang terkapar itu ditembak oleh satu orang petugas polisi," kata Wan Thamrin, saat melayat ke rumah duka Ipda Auzar, personel polisi yang menjadi korban teror di Mapolda Riau, di Jalan Bambu Kuning I Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, Rabu (16/5).

Lokasi Mapolda Riau sangat dekat dengan kantor gubernur di pusat Kota Pekanbaru. Bahkan, saat kejadian dirinya mendengar langsung ada letusan karena pada saat yang sama di kantor gubernur baru selesai acara tausiyah Ustaz Abdul Somad.

Pemprov Riau mengeluarkan surat maklumat yang ditandatangani juga oleh Kapolda Riau, Danrem 031 WB, Kepala BIN Daerah Riau, intinya agar pengamanan oleh semua instansi dan masyarakat ditingkatkan.

"Saya sedih dengan peristiwa ini, padahal mau Ramadhan. Karena itu saya imbau ke semua bupati/wali kota tolong batalkan semua acara keramaian jelang Ramadhan sebagai bentuk antisipasi dan keprihatinan atas teror ini," katanya.

Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru Romi Sinaga meyakini seluruh jajaran kepolisian Riau selalu siaga dan siap dalam situasi apa pun, apalagi kondisi belakangan ini kurang kondusif dan mengancam keamanan masyarakat Riau.

Ia menilai keberhasilan aparat kepolisian mengatasi teror di Mapolda Riau membuat situasi Pekanbaru, umumnya Riau, akan segera kembali pulih dan masyarakat percaya, walau harus tetap waspada.

"Kuncinya kita harus tenang jangan panik dan selalu waspada, khususnya pihak kepolisian dimana pun berada. Masyarakat juga harus membangun kekuatan dan gotong royong untuk menyelamatkan bangsa," ujarnya lagi.

Dia mengajak agar teror bom jangan lagi ada apalagi sampai mencederai, membuat panik dan memecah persatuan dan kesatuan bangsa.

Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komjen Syafruddin mengatakan penyerangan ke Markas Polda Riau, Kota Pekanbaru kuat dugaan dilakukan jaringan terkait dengan teror lainnya yang terjadi belakangan ini di Tanah Air.

Komjen Syafruddin, usai menghadiri pemakaman anggota Polda Riau yang gugur di Kota Pekanbaru, Rabu (16/5), mengatakan serangan di Mapolda Riau merupakan tindakan sporadis merupakan rentetan yang bermula dari insiden di tahanan Mako Brimbo Polri, di Kelapa Dua, Depok pada Selasa (8/5).

"Kait-mengkait kemungkinan besar, tapi tidak sampai kesimpulan yang komprehensif ada kaitannya," katanya sembari menjelaskan hingga kini sudah ada 33 teroris yang diamankan, termasuk empat orang di Riau.

"Total 33 teroris tersebar termasuk di Riau. Di Riau empat orang, pengembangan tujuh di Jatim, Jabar, Jakarta, dan Tangerang, dan sebagainya. Tunggu saja pihak Polri lewat Kadiv Humas Polri akan jelaskan secara utuh," katanya lagi.

Ia meminta agar serangan-serangan tersebut menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk mewaspadai, karena serangan teror bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Kemudian untuk aparat keamanan dari Polri, TNI, instansi kementerian, dan lembaga pemerintahan harus lebih profesional dalam mengayomi dan melindungi masyarakat.

"Karena tanggung jawab ada pada aparat keamanan, Polri, TNI, dan seluruh kementerian dan lembaga pemerintahan harus lebih profesional dan hati-hati. Tugas pertama adalah melindungi rakyat, agar masyarakat dapat jaminan keamanan dalam segala hal," katanya pula.

Selain itu, ia meminta masyarakat tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa dengan mengutamakan kewaspadaan.

"Insya Allah masalah ini akan selesai, semoga diijabah oleh Allah SWT," kata Wakapolri.

Atas keberhasilan aparat polisi mengatasi teror di kantor Mapolda Riau, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian memberikan penghargaan berupa kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) kepada dua personel Polda Riau, yaitu Komisaris Besar Rudi Syarifudin dan Brigadir Kepala JB Panjaitan di Mapolda Riau, Kota Pekanbaru, Kamis pagi.

Kombes Rudi sebagai Dirlantas Polda Riau berhasil menembak mati tiga tersangka sekaligus, sementara Brigka JB Panjaitan menembak satu tersangka lainnya.

Selain dua personel berprestasi di atas, Kapolri juga memberikan penghargaan KPLB kepada dua personel yang terluka dalam insiden serangan tersebut.

Kompol Farid Abdullah, personel Bidkum Polda Riau yang terluka pada bagian kepala belakang memperoleh kenaikan pangkat menjadi AKBP, Brigadir John Hendrik anggota Propam Polda Riau menerima kenaikan pangkat menjadi Aipda.

Sedangkan anggota Polda Riau Haji Ipda Auzar yang gugur dalam insiden serangan teroris tersebut terlebih dahulu menerima kenaikan pangkat menjadi Iptu Luar Biasa Anumerta Auzar.


Tak ada tempat teroris
Menyikapi teror yang dilakukan kelompok radikal di Mapolda Riau itu, Ketua DPRD Riau Septina Primawati Rusli mengecam aksi teror di daerahnya yang menyebabkan satu anggota kepolisian meninggal dunia dan korban lainnya luka-luka.

Ia menyatakan mengutuk keras setiap aksi terorisme. "Tidak ada tempat untuk teroris di Riau dan dimana pun. Kita akan lawan bersama," ujar istri mantan Gubernur Riau Rusli Zainal itu.

Politisi Partai Golkar Riau itu meminta aparat keamanan tidak gentar memberantas aksi radikal di Bumi Melayu, untuk pengamanan agar dikawal ketat di titik-titik keramaian.

Kepada korban penyerangan teroris, ia menyampaikan duka yang mendalam atas kejadian tersebut dan berharap kejadian itu tidak terjadi lagi di Riau.

Wakil Ketua DPRD Riau Noviwaldy Jusman mengatakan faktor tumbuh teroris di Riau karena letak geografis yang strategis, sehingga menjadi sasaran vital.

"Ini yang menjadi kekawatiran kita di Riau ini. Saya meminta masyarakat Pekanbaru untuk tenang namun tetap waspada. Laporkan gerak-gerik penghuni yang mencurigakan," katanya.

"Para ketua RW/RT agar perhatikan lingkungannya. Mencermati gerak-gerik yang mencurigakan, jika ada segera laporkan ke pihak kepolisian," ujar Noviwaldi lagi.

"Perlu juga dicarikan untuk pendanaan lain yang tidak biasa bagi pembinaan mereka yang menjadi narapidana kasus terorisme, diperlukan perlakuan khusus untuk mengubah cara pandang mereka tentang bagaimana menyelesaikan persoalan kemasyarakatan," ujarnya lagi.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026