Ilmuwan AS pelajari kemungkinan penularan virus mematikan COVID-19 dari hewan ke manusia
Sabtu, 17 Juli 2021 12:51 WIB
Masyarakat mengunjungi pantai untuk melihat singa laut saat pariwisata dibuka kembali, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19), di La Jolla, California, Amerika Serikat, Kamis (10/6/2021). (ANTARA/REUTERS/Mike Blake/rwa/cfo)
Washington (ANTARA) - Sekelompok ilmuwan di Amerika Serikat mempelajari COVID-19 pada hewan dan lingkungan untuk mengidentifikasi asal mula virus mematikan tersebut dan sumber potensial ancaman pandemi di masa depan, menurut laporan terkini ABC7 Eyewitness News.
"Kami tahu bahwa virus dapat melompati spesies dan apa yang ingin kita ketahui selanjutnya, atau dapat mengetahui sedini mungkin, yakni apakah ada spesies lain?" tanya Vanessa Hale, asisten profesor di Department of Veterinary Preventive Medicine di Universitas Negeri Ohio.
Hale bersama tim mikrobiologi dan ilmuwan lainnya menjadi bagian dari program bernama eScout, menurut media berita di California Selatan itu.
Program tersebut dirancang untuk mengidentifikasi virus pada hewan berbeda sekaligus menentukan apakah hewan-hewan itu memiliki mutasi yang mampu menyebarkan COVID-19 kembali ke manusia.
"Kami sedang menguji rusa, tupai, cerpelai, kelinci dan sedang bekerja sama dengan banyak anggota komunitas yang berbeda, seperti dokter hewan dan klinik hewan untuk menguji hal-hal seperti musang juga. Kami juga menguji babi di pameran pertanian. Jadi, di pameran negara bagian dan daerah tempat babi-babi mungkin dikumpulkan untuk dipertunjukkan," kata Hale seperti dikutip dalam laporan itu.
Para ilmuwan juga sedang memantau air limbah dan aliran perkotaan terkait virus SARS-CoV-2 guna menentukan varian virus apa yang sedang beredar, yang menurut mereka akan penting dalam langkah pencegahan COVID-19 jangka panjang.
Sumber: Xinhua
"Kami tahu bahwa virus dapat melompati spesies dan apa yang ingin kita ketahui selanjutnya, atau dapat mengetahui sedini mungkin, yakni apakah ada spesies lain?" tanya Vanessa Hale, asisten profesor di Department of Veterinary Preventive Medicine di Universitas Negeri Ohio.
Hale bersama tim mikrobiologi dan ilmuwan lainnya menjadi bagian dari program bernama eScout, menurut media berita di California Selatan itu.
Program tersebut dirancang untuk mengidentifikasi virus pada hewan berbeda sekaligus menentukan apakah hewan-hewan itu memiliki mutasi yang mampu menyebarkan COVID-19 kembali ke manusia.
"Kami sedang menguji rusa, tupai, cerpelai, kelinci dan sedang bekerja sama dengan banyak anggota komunitas yang berbeda, seperti dokter hewan dan klinik hewan untuk menguji hal-hal seperti musang juga. Kami juga menguji babi di pameran pertanian. Jadi, di pameran negara bagian dan daerah tempat babi-babi mungkin dikumpulkan untuk dipertunjukkan," kata Hale seperti dikutip dalam laporan itu.
Para ilmuwan juga sedang memantau air limbah dan aliran perkotaan terkait virus SARS-CoV-2 guna menentukan varian virus apa yang sedang beredar, yang menurut mereka akan penting dalam langkah pencegahan COVID-19 jangka panjang.
Sumber: Xinhua
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor : Vienty Kumala
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Trump Umumkan Israel-Lebanon Sepakati Gencatan Senjata 10 Hari, Berlaku Kamis
17 April 2026 11:03 WIB
Api karhutla dekati pemukiman warga di Bengkalis, Manggala Agni menghalau malam hari
08 April 2026 12:32 WIB
Tim Manggala Agni menginap empat hari di pondok warga demi padamkan karhutla di Rupat Bengkalis
02 April 2026 16:35 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Terjun Bebas Lebih dari 10%
18 April 2026 15:15 WIB